Pengalaman Ngeseks dengan Orang Ketiga - 01
December 31, 2007 |
Saya sekeluarga pernah tinggal di luar negeri selama 17 tahun dan sekarang kami sudah kembali ke Jakarta dan mempunyai tiga orang anak. Di bawah adalah cerita dari pengalaman seks saya dan istri saya dan ini benar-benar terjadi.
Perkawinan kita bisa dibilang sangat bahagia demikian juga dengan kehidupan seks kami. Kita berdua sangat menyukai dan menikmati hubungan seks. Sampai saat ini pun kami masih menikmati dan menyenanginya. Keinginan untuk mencoba hubungan seks selain dengan pasangan sendiri selalu muncul dalam pembicaraan kita berdua. Dan bilamana itu dilakukan ketika kita sedang senggama, akan menambah gairah dan semangat. Kita sering membayangkan bagaimana enaknya bila kita disenggama atau senggama dengan orang lain.
Pada satu hari WR pulang dari jalan-jalan dan mengatakan bahwa dia ketemu dengan pria mix China Amerika yang sangat seksi. Saya memberanikan diri menanyakan apa dia tertarik dan ingin berhubungan badan dengan pria itu. Dia menjawab tentu mau dong.
Akhirnya dia berhasil mengajak si pria tersebut ke rumah ketika saya sedang tugas keluar negeri. Saya sering bertugas keluar negeri untuk beberapa hari. Pada saat saya sampai di tempat tujuan saya, langsung saya telepon ke rumah dan menanyakan tentang rencana dia. Ceritanya nanti malam si pria akan datang sekitar jam 8 malam.
Semalaman di hotel saya terpaksa bermain sendiri sampai keluar beberapa kali. Besoknya waktu saya sampai di rumah, langsung saya tanya tentang pria itu. Namanya Derrick. Kebetulan anak saya sedang tidur siang. Penis saya pada saat itu sudah sangat keras dan ingin cepat-cepat dimasukkan kevaginanya.
Derrick datang sekitar jam 9 malam, anak lelaki kita sudah tidur. Mereka mengobrol di ruang tamu dan mulai saling meraba badan masing-masing. Derrick mulai mencium dan meremas payudara WR. Vagina WR sudah mulai basah dan terasa di celana dalamnya. WR menganjurkan pindah ke kamar tidur untuk lebih nyaman. Sesampainya di kamar, Derrick melepaskan baju WR dan bajunya sendiri. WR bilang bahwa badan Derrick berbau harum bayi, terlebih lebih di sekitar penisnya. Yang sangat disayangkan oleh WR adalah ukuran penis Derrick. Langsung saja oleh WR penis Derrick dihisap agar menjadi keras dan besar. Tetapi penisnya tetap saja kecil.
Derrick mulai mencium payudara dan badan WR dan turun ke bawah ke paha, WR mengharapkan bahwa Derrick akan menjilat vagina dan kelentitnya. Tetapi Derrick ternyata hanya lewat saja. Kebetulan pada saat itu WR memakai pembalut wanita karena dia baru saja selesai mens, tetapi vaginanya sudah bersih. Hanya saja Derrick mungkin merasa jijik. Derrick kemudian naik ke atas dan mencoba memasukkan penisnya yang kecil ke vagina istriku. Sangat sulit untuk Derrick memasukkan penisnya karena ukuran yang kecil dan vagina WR yang sudah terlalu basah karena rangsangan dari dia.
Setelah berhasil memasukkan penisnya ke dalam, dia hanya bisa mempompa beberapa kali sebelum akhirnya mengeluarkan penisnya dari vagina WR. Ia bilang mau ke kamar kecil dan akan kembali secepatnya. Pengalaman WR dengan Derrick ternyata tidak memuaskan dan dia belum sampai orgasme kemarin. Penis saya pada saat itu sudah sangat keras. Langsung saja saya memasukkan penisku ke vaginanya yang telah basah dan siap untuk disetubuhi. Tidak lama untuk membuat kita berdua keluar bersamaan. Walaupun penis Derrick kecil tapi pengalaman tersebut cukup untuk membuat kita berdua terangsang sebelum bersenggama.
Satu bulan setelah berhubungan badan dengan Derrick, pada satu malam kita berdua sedang mendengarkan radio kesukaan kita, WR mengatakan bahwa suara penyiar laki-laki sangat seksi. Saya bertanya apa yang akan dia lakukan? Tanpa mengatakan apapun juga, dia menghubungi stasiun radio dan berbicara dengan penyiar yang namanya Rick. Saya tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi yang saya bisa lihat adalah WR sering sekali melipat pahanya.
Setelah selesai berbicara, WR mendatangiku sambil berkata, Rick akan datang kira-kira 15 menit lagi. Saya merasa panik dan sangat terangsang. Sambil menunggu Rick datang, kita mulai memegang alat vital dan berciuman. Pikiran saya pada saat itu sangat bingung dan ada rasa cemburu. WR akan bermain cinta di depan mata saya.
Tidak lama kemudian pintu diketuk dari luar. Saya bersembunyi di kamar anakku, dimana saya masih bisa melihat ke ruang tamu. Mereka berdua duduk di ruang makan dan saya hanya bisa mendengar suara mereka berbicara. Tidak lama kemudian mereka pindah ke ruang tamu dan duduk di sofa. Rick memeluk WR dan mulai menciumnya, pada saat bersaman tangannya bermain dengan payudara WR. Mata WR terpejam dan terlihat sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Rick. Tangan WR mulai menggerayangi badan Rick dan mengelus-elus. Rick membuka baju atas WR dan mulai menghisap pentil payudara sambil memeras payudara yang lainnya. WR memeluk Rick dengan keras dan mulai memegang kepala dan mendorong ke arah payudaranya dengan lebih keras. Terdengar dia mendesah dan merintih-rintih kenikmatan.
Tidak lama kemudian mereka berdua berjalan ke ruang tidur kita, sambil melihat kepadaku dan terseyum. Rick berbaring sambil menghisap payudara WR seperti anak bayi sedang menyusu. Setiap kali Rick ingin memegang vaginanya WR mendorong dan tidak mengijinkan Rick memegang vaginanya. Tangan WR terlihat menuju ke celana Rick yang pada saat itu memakai celana pendek. Tangannya langsung masuk dan terlihat meremas-remas penis Rick. Matanya tertutup dan menikmati hisapan Rick. WR kemudian melepaskan kancing celana Rick dan menurunkan celana ke bawah. Penis Rick dengan sendirinya keluar dan ukuran penisnya sangat besar, kira kira 13 inchi. Dengan diameter 3 inchi. Tangan WR terus meloco penis Rick dan semakin besar saja.
Rick berusaha untuk memegang vaginanya tapi selalu disorong jauh. WR terus turun dan menjilat sambil mengulum penis Rick. Awalnya terlihat sangat sulit untuk dia memasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Penis Rick terlalu besar. Tapi dia berhasil juga mengulum walaupun tidak seluruhnya.
Tidak lama kemudian Rick menarik WR ke atas dan menciumnya, tangan WR tidak berhenti mengocok penis Rick dan akhirnya sperma Rick keluar juga membasahi tempat tidur kita. Setelah itu Rick berpakaian dan pulang. Setelah dia pulang saya keluar dan mencium WR, terasa asin dan bau penis tetapi saya sudah terlalu terangsang untuk memikirkan lainnya. Saya memegang vaginanya dan basah sekali sampai licin sekali. Dia langsung menghisap penis saya dan menempatkan vaginanya ke mulut saya. Rasanya sangat nikmat menjilat vagina yang basah dan licin. Saya membayangkan bahwa hampir saja vagina ini dimasukin oleh penis yang sangat besar. WR mengatakan bahwa dia sebenarnya kaget juga melihat penis Rick yang sangat besar itu.
BERSAMBUNG
Mengenai Saya
- karmila.blogspot
- silahkan kunjungi http://www.galesus.com/index.php?id=sukari baik, jujur, perhatian sama keluarga istri n teman-teman
Selasa, 13 Januari 2009
Tante Vivi 2
Gairah Tante Vivi 02
January 24, 2008 |
Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha menjelaskan sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu membuang banyak waktu, bagaimanapun aku jadi tidak enak juga karena hari sudah semakin malam. Kulirik arlojiku sudah hampir setengah 12 malam.
“Sudah malem Tante.., besok-besok khan masih bisa belajar Tante.., mm sekarang saya pulang dulu ya Tante..”, kataku sambil setengah berjalan hendak keluar kamar.
“Iya deh.., waah.., makasih ya Ar.., kamu pinter sekali mm.., Tante gimana harus ngucapin terima kasih sama kamu Ar.., hik.., hik..”, tanyanya sambil tertawa kecil.
“aah.., Tante ini ada-ada aja.., sudah deh.., sudah malem Tante..”, jawabku sambil berjalan keluar, Tante Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam sejenak. Sambil berjalan aku tersenyum, “Gilaa..”, Tante Vivi begitu baik dan sopan, ternyata tak seperti yang aku duga dasar otak ngeres, bisikku dalam hati.
Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak terima kasih, aku menyalaminya tangannya yang halus erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika tiba-tiba seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan kaki-kakinya yang panjang langsung meloncat ke lantai begitu tanganku memegang handle pintu, refleks tanganku kutarik ke belakang sambil meloncat mundur, aku tidak tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh Tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak jatuh. Namun dengan sigap walaupun tubuhku masih setengah merinding, aku langsung memegang lengan kanannya dan kutarik tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik tubuhnya telah berada dalam pelukanku. Sweear.., saya memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.
“Aduuh.., Ar.., ada apa sih kamu..”, pekiknya.
“Anuu Tante.., laba-laba gedhe..”, sahutku sambil memandang ke sekeliling ruangan, aku bener-benar senewen sekali rasanya. Sialaan, laba-laba sialaan ngagetin orang aja” bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum sadar kalau kedua tanganku masih memeluk tubuh Tante Vivi, maklum aku sendiri masih terasa merinding.
“Ar..”, bisik Tante Vivi di telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan sedikit berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka.., duh cantiknya. Sejenak aku terpana dengan kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak kesamaan lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva. Seolah teringat kemesraan dan kebersamaanku bersama Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku mencegahnya.., kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya seolah terjadi begitu saja tanpa aku mengerti sama sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku di luar kesadaran.., dan dalam 2 detik bibirku telah mengecup lembut bibir Tante Vivi yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya.., terasa manis.
Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Dan ketika aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka..
” ooh..”, bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu berakhir. Dengan perasaan kaget bercampur malu aku melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan sejuta rasa bersalah, namun seolah tak yakin aku juga baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali tak memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat betapa wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka barbie, kedua matanya yang sipit memandang redup kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah terbuka dan merekah basah menawan hati.
“Tan.., te.., apa yang kulakukan..”, bisikku masih setengah tak percaya atas sikapku barusan kepadanya.
Tante Vivi sama sekali tak menjawab. Tidak ada rona kemarahan di wajahnya yang cantik. Ia hanya tersenyum setengah malu-malu dan menundukkan muka. Sejenak kami berdua terdiam.., hening dalam pikiran masing-masing.
Kali ini aku benar-benar malu pada diriku sendiri, terlalu gampang mengumbar perasaan kepada setiap orang.., aahh tetapi.., kenapa ada sesuatu yang lain pada tubuhku.., sesuatu yang aku begitu sangat mengenalnya.., astaga.., aku merasa batang penisku telah berdiri tegak.., tuing.., tuiing.., gilaa begitu cepatnya batang penisku mengeras dan mendesak celana dalamku seolah ingin berontak keluar.
“Sudahlah Ar.. “, bisik Tante Vivi lirih, memecah keheningan itu. Aku tersadar pula.
“Maafkan Ari Tante.., sa.., saya.., teringat Selva Tante..”, sahutku setengah gugup.
Tante Vivi tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang barusan kukecup semakin indah menawan membentuk senyuman mesra.
“Kamu rindu Ar.., sama dia..”, tanyanya seolah melupakan peristiwa yang barusan. Aku sedikit bernapas lega karena ia kelihatan sama sekali tidak marah. Aku tidak tahu apa alasannya namun yang penting aku bisa meredam rasa maluku.
“Eehh.., iya Tante..”, sahutku beralasan.
“Ya sudahlah.., tidak pa-pa Ar..”, sahutnya enteng. Mau tak mau aku jadi bingung juga melihat sikapnya. Semudah itukah. Mencium seseorang yang bukan apa-apanya secara disengaja, itu tidak apa-apa?
“Tante tidak marah..?”, tanyaku balik. Entah kenapa aku seolah diatas angin melihat sikapnya dan seolah timbul keberanianku.
“Tidak Ar..”, jawabnya sambil tetap tersenyum manis. Kedua matanya memandangku dengan sejuta arti. Dalam pandanganku wajahnya kelihatan semakin bertambah cantik dan cantik. Sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang terpelajar seperti aku yang sudah kenyang dengan cerita pengalaman orang lain plus pengalamanku sendiri, apalagi soal perilaku seks. Sikap Tante Vivi seperti itu seolah sebagai tantangan dan ajakan. Otakku berpikir cepat, menimbang.., dan memutuskan. Sampai disitu jalan pikiranku menjadi buntu.., yang ada hanyalah.., nafsu.
Seolah ada yang memberiku kekuatan dan keberanian, kuraih tubuh Tante Vivi yang masih berada di hadapanku dan kubawa kembali ke dalam pelukanku. Benar saja.., ia sama sekali tak melawan atau memberontak. Seolah lemas saja tubuhnya yang seksi montok itu berada dalam dekapanku. Wajahnya yang cantik bak bidadari kahyangan memandangku pasrah dan tetap dengan senyum manis bibirnya yang kian menggoda. Kedua pipinya kelihatan semakin memerah pula menambah kecantikannya. Aku semakin terpana.
“Apa yang ingin kau lakukan Ar..”, bisiknya lirih setengah kelihatan malu.
Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra sambil berbisik.
“Tante pasti tahu apa yang akan Ari lakukan..”, bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu. Telah kulupakan bayangan Dina dan juga Selva. Aku lupa diri, setan-setan burik telah menyapu habis pikiranku tentang mereka.
“Kau yakin Ar..”, tanya Tante Vivi lirih. Ooh.., desakan kedua buah payudaranya yang besar pada dadaku membuat batang penisku semakin tegang tak terkira.
“Yaa.., Tante..”, sahutku tanpa mengerti maksud pertanyaannya. Dengan cepat aku sudah membayangkan keindahan tubuhnya yang telanjang bulat, kemontokan payudaranya yang besar dan kencang, kemulusan kulit tubuhnya dan.., aahh bukit kemaluannya yang besar.., woowww..
Tanpa terasa batang penisku kurasakan memuntahkan cairan beningnya, aku merasa seolah telah memasuki liang vaginanya. Tanpa dapat kucegah, kuremas gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik celana jeans ketatnya.
“Oouuhh.. “, Tante Vivi mengeluh lirih.
Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah diubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Hanya setan-setan burik sialan itu yang menyuruhku agar segera melucuti pakaian Tante Vivi dan memperkosa sepuasnya.
“aah.., ki.. Kita ke kamar Tante..”, bisikku semakin bernafsu.
Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Tante Vivi. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat padat dan kenyal. Aku masih menahan diri untuk tak bergerak terlalu jauh, walau sebenarnya hatiku begitu ingin sekali meraba selangkangan atau meremas payudaranya. Entah kenapa aku ingin bersikap lembut dan romantis. Bahkan kecupan bibirku padanya kulakukan selembut dan semesra mungkin, aku kira Tante Vivi sangat menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh.., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil mbangir beradu mesra dengan hidungku. Kurasakan kedua lengan Tante Vivi telah melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.
Batang kejantananku terasa semakin besar dan mendesak liar di dalam CD-ku. Teng.., teng.., teng.., aku mulai merasakan kesakitan apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang penisku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut Tante Vivi yang empuk.
Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, birahiku telah mengalahkan segala-galanya. Keyakinan dan akal sehatku seakan telah tertutup oleh lingkaran nafsu. Kenikmatan seks yang pernah kurasakan bersama Dina telah membuatku semakin lupa diri. Seolah menemukan daging segar yang baru, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Vivi.
aah.., wajah cantiknya itu kelihatan semakin berkeringat, dan bibirnya yang basah oleh liurku merekah indah. Begitu ranum bak bibir gadis remaja. Kedua bola matanya sedikit redup dan memandangku pasrah. Aku melihat ada sejuta keinginan terpendam dalam sorot matanya itu. Aku bisa menduga Tante Vivi pasti tak tahan hidup menjanda, bagaimanapun aku tahu ia pasti jelas sudah tak perawan lagi,.. aku hanya bisa menduga-duga dengan apa Tante Vivi melampiaskan kebutuhan batinnya selama ini.
“Aku menginginkanmu, Tante..”, bisikku padanya terus terang. Pikiranku sudah tertutup oleh nafsu, namun bagaimanapun aku tak ingin grusa-grusu seenak sendiri. Dengan sikapku ini otomatis aku melatih diri untuk mengontrol keinginan seks-ku yang cenderung vulgar.
“oouh.., Ar.., Tante juga ingin.., oouhh..”.
Belum habis ucapannya yang sangat merangsang itu, badanku membungkuk dan meraih tubuh montok Tante vivi dalam pondonganku. Ia agak sedikit kaget melihat tindakanku, namun sejenak kemudian ia tertawa genit dan manja ketika aku mulai membopong tubuh seksinya itu masuk kembali melintasi ruang tengah menuju ke dalam kamar. Lengan kanannya merangkul leherku sementara jemari tangan kirinya mengusap mesra kedua pipi dan wajahku. Tante vivi kelihatan setengah malu-malu kubopong seperti ini.
“Kamu ganteng Ar..”, bisiknya padaku mesra sambil tersenyum manis.
“Kamu juga cantik Tante..”, balasku tak kalah mesra. Kami berdua sempat tertawa kecil karena kekanakan ini.
“Ar.., panggil aku Vivi saja yaa..”, ujar Tante Vivi padaku. Aku mengangguk senang.
Di dalam kamarnya, kuturunkan tubuh Tante Vivi dari boponganku di sisi kiri tempat tidurnya. Kami berdua saling berpandangan mesra dalam jarak sekitar 1 meter. Aah.., kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja, pahanya yang seksi dan aah.., kubayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik celana jeansnya.., mm.., betapa nikmatnya nanti saat batang penisku memasuki liang vaginanya yang sempit dan hangat.., mm akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang vaginanya sebagai bukti kejantananku.., “Oohh.., Vivi..”, bisikku dalam hati. Akan kulumat dirimu dengan kenikmatan.
“Ar.., kamu duluan sayang..”, bisik Tante Vivi, membuyarkan fantasi seks-ku padanya.
Wajahnya yang cantik tersenyum manis, seolah ia mengetahui apa yang ada dalam pikiranku kedua jemari tangannya kini berada di atas kedua belah payudaranya sendiri. Tante Vivi mulai mengusap perlahan kedua bulatan payudaranyanya yang besar dari balik baju kemejanya. Seolah merangsang dan menggodaku. Aku tak tahan melihat tingkahnya, andai saja Tante Vivi tahu betapa sakitnya batang penisku yang terjepit di dalam CD-ku seolah memberontak ingin keluar. aah.., dengan cuek aku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu dengan cepat.., srrt.., kulemparkan bajuku sekenanya ke samping, pandangan kedua mataku seolah tak lepas dari tubuh Tante Vivi yang semakin menggoda.., srrt.., kutarik kaos singletku keatas sampai lepas dan kulempar sekenanya pula. Tak puas sampai di situ, dengan jemari gemetar menahan nafsu aku mulai membuka sabuk celana dan menarik turun ritsluiting celana panjangku dan sruut.., langsung turun ke bawah (kebetulan aku mengenakan celana baggy dari katun).
“Ooh..”, Tante Vivi memekik kecil saat melihat tubuhku yang setengah polos. Kulihat kedua jemari tangannya meremas kuat payudaranya sendiri yang besar, mulutnya yang manis sedikit melongo dan kedua bola matanya yang hitam seakan setengah melotot pula memandang ke tubuhku bagian bawah. Sekilas aku melirik ke bawah dan tersenyum geli sendiri. Bagaimana tidak ternyata batang penisku yang sudah tegak itu mendesak hebat ke atas sampai kepala penisku tanpa terasa melongok keluar dari dalam celana dalamku. Begitu besar dan tebal mendongak ke atas persis di bawah pusarku. Kepala penisku kelihatan bengkak memerah karena tegang yang tak terkira. Batang penisku tidak terlalu panjang memang hanya sekitar 14 centi, namun ukuran diameternya cukup besar dan yang paling membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip sekali dengan milik bintang film porno “Rocco Siffredi”.., montok dan berurat.
Kuusap pelan batang penisku yang sedang berdiri nakal itu dari balik celana dalam. mm.., terasa begitu nikmat. Kurasakan ada sedikit cairan bening yang keluar dan menempel pada jemari tanganku. mm.., bagaimanapun juga batang penisku ini pernah merobek dan merenggut keperawanan Dina. Tass.., Sekelebat bayangan wajah Dina seolah berada di depan pelupuk mataku. Aku seolah tersadar kembali.
Astaga.., aah.., apa yang aku lakukan ini?, nuraniku seakan menjerit. Sejenak pikiranku berkecamuk. Dan ketika bayangan wajah kekasihku Selva muncul, batinku semakin menjerit. aah.., apa yang aku lakukan Selva..? Terjadi perang berkecamuk di dalam batinku. Nuraniku mengatakan agar aku sadar mengingat resiko buruk yang mungkin terjadi dengan perbuatan bejatku, namun dilain pihak pikiranku mengatakan sangat ingin mencumbu dan melampiaskan nafsu seks-ku kepada Tante Vivi. Sikap Tante Vivi bagiku merupakan kejutan besar yang menggairahkan hati. Aku tak ingin melewatkan kesempatan indah yang tak mungkin dilain waktu akan terulang lagi. Batinku menjerit namun pikiranku yang dipenuhi nafsu seolah lebih kuat. Entah berapa lama aku memejamkan mata menanti perang di batinku akan berakhir. Aku merasa imanku terlalu lemah sedangkan darah mudaku yang penuh dengan gejolak birahi terlalu begitu perkasa.
Ketika aku membuka kedua mataku kembali kulihat Tante Vivi sudah tak berada di hadapanku lagi. Semula aku sedikit heran, lalu instingku menoleh ke samping kiri dan.., Astagaa.., mataku terbeliak kaget menyaksikan pemandangan indah yang begitu luar biasa.., begitu mempesona.., begitu menggairahkan.., begitu aahh..
Kedua mataku melotot sampai ingin keluar menyaksikan tubuh Tante Vivi yang kini ternyata telah berada di atas pembaringan tanpa tertutup sehelai benang. Betapa begitu putih mulus tubuh moleknya yang bugil telanjang bulat, jauh lebih putih dari tubuh Dina.., memamerkan semua keindahan, kemulusan dan kemontokan lekak-lekuk tubuhnya yang bak gadis usia remaja.
January 24, 2008 |
Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha menjelaskan sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu membuang banyak waktu, bagaimanapun aku jadi tidak enak juga karena hari sudah semakin malam. Kulirik arlojiku sudah hampir setengah 12 malam.
“Sudah malem Tante.., besok-besok khan masih bisa belajar Tante.., mm sekarang saya pulang dulu ya Tante..”, kataku sambil setengah berjalan hendak keluar kamar.
“Iya deh.., waah.., makasih ya Ar.., kamu pinter sekali mm.., Tante gimana harus ngucapin terima kasih sama kamu Ar.., hik.., hik..”, tanyanya sambil tertawa kecil.
“aah.., Tante ini ada-ada aja.., sudah deh.., sudah malem Tante..”, jawabku sambil berjalan keluar, Tante Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam sejenak. Sambil berjalan aku tersenyum, “Gilaa..”, Tante Vivi begitu baik dan sopan, ternyata tak seperti yang aku duga dasar otak ngeres, bisikku dalam hati.
Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak terima kasih, aku menyalaminya tangannya yang halus erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika tiba-tiba seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan kaki-kakinya yang panjang langsung meloncat ke lantai begitu tanganku memegang handle pintu, refleks tanganku kutarik ke belakang sambil meloncat mundur, aku tidak tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh Tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak jatuh. Namun dengan sigap walaupun tubuhku masih setengah merinding, aku langsung memegang lengan kanannya dan kutarik tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik tubuhnya telah berada dalam pelukanku. Sweear.., saya memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.
“Aduuh.., Ar.., ada apa sih kamu..”, pekiknya.
“Anuu Tante.., laba-laba gedhe..”, sahutku sambil memandang ke sekeliling ruangan, aku bener-benar senewen sekali rasanya. Sialaan, laba-laba sialaan ngagetin orang aja” bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum sadar kalau kedua tanganku masih memeluk tubuh Tante Vivi, maklum aku sendiri masih terasa merinding.
“Ar..”, bisik Tante Vivi di telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan sedikit berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka.., duh cantiknya. Sejenak aku terpana dengan kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak kesamaan lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva. Seolah teringat kemesraan dan kebersamaanku bersama Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku mencegahnya.., kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya seolah terjadi begitu saja tanpa aku mengerti sama sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku di luar kesadaran.., dan dalam 2 detik bibirku telah mengecup lembut bibir Tante Vivi yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya.., terasa manis.
Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Dan ketika aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka..
” ooh..”, bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu berakhir. Dengan perasaan kaget bercampur malu aku melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan sejuta rasa bersalah, namun seolah tak yakin aku juga baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali tak memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat betapa wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka barbie, kedua matanya yang sipit memandang redup kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah terbuka dan merekah basah menawan hati.
“Tan.., te.., apa yang kulakukan..”, bisikku masih setengah tak percaya atas sikapku barusan kepadanya.
Tante Vivi sama sekali tak menjawab. Tidak ada rona kemarahan di wajahnya yang cantik. Ia hanya tersenyum setengah malu-malu dan menundukkan muka. Sejenak kami berdua terdiam.., hening dalam pikiran masing-masing.
Kali ini aku benar-benar malu pada diriku sendiri, terlalu gampang mengumbar perasaan kepada setiap orang.., aahh tetapi.., kenapa ada sesuatu yang lain pada tubuhku.., sesuatu yang aku begitu sangat mengenalnya.., astaga.., aku merasa batang penisku telah berdiri tegak.., tuing.., tuiing.., gilaa begitu cepatnya batang penisku mengeras dan mendesak celana dalamku seolah ingin berontak keluar.
“Sudahlah Ar.. “, bisik Tante Vivi lirih, memecah keheningan itu. Aku tersadar pula.
“Maafkan Ari Tante.., sa.., saya.., teringat Selva Tante..”, sahutku setengah gugup.
Tante Vivi tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang barusan kukecup semakin indah menawan membentuk senyuman mesra.
“Kamu rindu Ar.., sama dia..”, tanyanya seolah melupakan peristiwa yang barusan. Aku sedikit bernapas lega karena ia kelihatan sama sekali tidak marah. Aku tidak tahu apa alasannya namun yang penting aku bisa meredam rasa maluku.
“Eehh.., iya Tante..”, sahutku beralasan.
“Ya sudahlah.., tidak pa-pa Ar..”, sahutnya enteng. Mau tak mau aku jadi bingung juga melihat sikapnya. Semudah itukah. Mencium seseorang yang bukan apa-apanya secara disengaja, itu tidak apa-apa?
“Tante tidak marah..?”, tanyaku balik. Entah kenapa aku seolah diatas angin melihat sikapnya dan seolah timbul keberanianku.
“Tidak Ar..”, jawabnya sambil tetap tersenyum manis. Kedua matanya memandangku dengan sejuta arti. Dalam pandanganku wajahnya kelihatan semakin bertambah cantik dan cantik. Sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang terpelajar seperti aku yang sudah kenyang dengan cerita pengalaman orang lain plus pengalamanku sendiri, apalagi soal perilaku seks. Sikap Tante Vivi seperti itu seolah sebagai tantangan dan ajakan. Otakku berpikir cepat, menimbang.., dan memutuskan. Sampai disitu jalan pikiranku menjadi buntu.., yang ada hanyalah.., nafsu.
Seolah ada yang memberiku kekuatan dan keberanian, kuraih tubuh Tante Vivi yang masih berada di hadapanku dan kubawa kembali ke dalam pelukanku. Benar saja.., ia sama sekali tak melawan atau memberontak. Seolah lemas saja tubuhnya yang seksi montok itu berada dalam dekapanku. Wajahnya yang cantik bak bidadari kahyangan memandangku pasrah dan tetap dengan senyum manis bibirnya yang kian menggoda. Kedua pipinya kelihatan semakin memerah pula menambah kecantikannya. Aku semakin terpana.
“Apa yang ingin kau lakukan Ar..”, bisiknya lirih setengah kelihatan malu.
Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra sambil berbisik.
“Tante pasti tahu apa yang akan Ari lakukan..”, bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu. Telah kulupakan bayangan Dina dan juga Selva. Aku lupa diri, setan-setan burik telah menyapu habis pikiranku tentang mereka.
“Kau yakin Ar..”, tanya Tante Vivi lirih. Ooh.., desakan kedua buah payudaranya yang besar pada dadaku membuat batang penisku semakin tegang tak terkira.
“Yaa.., Tante..”, sahutku tanpa mengerti maksud pertanyaannya. Dengan cepat aku sudah membayangkan keindahan tubuhnya yang telanjang bulat, kemontokan payudaranya yang besar dan kencang, kemulusan kulit tubuhnya dan.., aahh bukit kemaluannya yang besar.., woowww..
Tanpa terasa batang penisku kurasakan memuntahkan cairan beningnya, aku merasa seolah telah memasuki liang vaginanya. Tanpa dapat kucegah, kuremas gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik celana jeans ketatnya.
“Oouuhh.. “, Tante Vivi mengeluh lirih.
Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah diubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Hanya setan-setan burik sialan itu yang menyuruhku agar segera melucuti pakaian Tante Vivi dan memperkosa sepuasnya.
“aah.., ki.. Kita ke kamar Tante..”, bisikku semakin bernafsu.
Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Tante Vivi. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat padat dan kenyal. Aku masih menahan diri untuk tak bergerak terlalu jauh, walau sebenarnya hatiku begitu ingin sekali meraba selangkangan atau meremas payudaranya. Entah kenapa aku ingin bersikap lembut dan romantis. Bahkan kecupan bibirku padanya kulakukan selembut dan semesra mungkin, aku kira Tante Vivi sangat menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh.., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil mbangir beradu mesra dengan hidungku. Kurasakan kedua lengan Tante Vivi telah melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.
Batang kejantananku terasa semakin besar dan mendesak liar di dalam CD-ku. Teng.., teng.., teng.., aku mulai merasakan kesakitan apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang penisku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut Tante Vivi yang empuk.
Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, birahiku telah mengalahkan segala-galanya. Keyakinan dan akal sehatku seakan telah tertutup oleh lingkaran nafsu. Kenikmatan seks yang pernah kurasakan bersama Dina telah membuatku semakin lupa diri. Seolah menemukan daging segar yang baru, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Vivi.
aah.., wajah cantiknya itu kelihatan semakin berkeringat, dan bibirnya yang basah oleh liurku merekah indah. Begitu ranum bak bibir gadis remaja. Kedua bola matanya sedikit redup dan memandangku pasrah. Aku melihat ada sejuta keinginan terpendam dalam sorot matanya itu. Aku bisa menduga Tante Vivi pasti tak tahan hidup menjanda, bagaimanapun aku tahu ia pasti jelas sudah tak perawan lagi,.. aku hanya bisa menduga-duga dengan apa Tante Vivi melampiaskan kebutuhan batinnya selama ini.
“Aku menginginkanmu, Tante..”, bisikku padanya terus terang. Pikiranku sudah tertutup oleh nafsu, namun bagaimanapun aku tak ingin grusa-grusu seenak sendiri. Dengan sikapku ini otomatis aku melatih diri untuk mengontrol keinginan seks-ku yang cenderung vulgar.
“oouh.., Ar.., Tante juga ingin.., oouhh..”.
Belum habis ucapannya yang sangat merangsang itu, badanku membungkuk dan meraih tubuh montok Tante vivi dalam pondonganku. Ia agak sedikit kaget melihat tindakanku, namun sejenak kemudian ia tertawa genit dan manja ketika aku mulai membopong tubuh seksinya itu masuk kembali melintasi ruang tengah menuju ke dalam kamar. Lengan kanannya merangkul leherku sementara jemari tangan kirinya mengusap mesra kedua pipi dan wajahku. Tante vivi kelihatan setengah malu-malu kubopong seperti ini.
“Kamu ganteng Ar..”, bisiknya padaku mesra sambil tersenyum manis.
“Kamu juga cantik Tante..”, balasku tak kalah mesra. Kami berdua sempat tertawa kecil karena kekanakan ini.
“Ar.., panggil aku Vivi saja yaa..”, ujar Tante Vivi padaku. Aku mengangguk senang.
Di dalam kamarnya, kuturunkan tubuh Tante Vivi dari boponganku di sisi kiri tempat tidurnya. Kami berdua saling berpandangan mesra dalam jarak sekitar 1 meter. Aah.., kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja, pahanya yang seksi dan aah.., kubayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik celana jeansnya.., mm.., betapa nikmatnya nanti saat batang penisku memasuki liang vaginanya yang sempit dan hangat.., mm akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang vaginanya sebagai bukti kejantananku.., “Oohh.., Vivi..”, bisikku dalam hati. Akan kulumat dirimu dengan kenikmatan.
“Ar.., kamu duluan sayang..”, bisik Tante Vivi, membuyarkan fantasi seks-ku padanya.
Wajahnya yang cantik tersenyum manis, seolah ia mengetahui apa yang ada dalam pikiranku kedua jemari tangannya kini berada di atas kedua belah payudaranya sendiri. Tante Vivi mulai mengusap perlahan kedua bulatan payudaranyanya yang besar dari balik baju kemejanya. Seolah merangsang dan menggodaku. Aku tak tahan melihat tingkahnya, andai saja Tante Vivi tahu betapa sakitnya batang penisku yang terjepit di dalam CD-ku seolah memberontak ingin keluar. aah.., dengan cuek aku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu dengan cepat.., srrt.., kulemparkan bajuku sekenanya ke samping, pandangan kedua mataku seolah tak lepas dari tubuh Tante Vivi yang semakin menggoda.., srrt.., kutarik kaos singletku keatas sampai lepas dan kulempar sekenanya pula. Tak puas sampai di situ, dengan jemari gemetar menahan nafsu aku mulai membuka sabuk celana dan menarik turun ritsluiting celana panjangku dan sruut.., langsung turun ke bawah (kebetulan aku mengenakan celana baggy dari katun).
“Ooh..”, Tante Vivi memekik kecil saat melihat tubuhku yang setengah polos. Kulihat kedua jemari tangannya meremas kuat payudaranya sendiri yang besar, mulutnya yang manis sedikit melongo dan kedua bola matanya yang hitam seakan setengah melotot pula memandang ke tubuhku bagian bawah. Sekilas aku melirik ke bawah dan tersenyum geli sendiri. Bagaimana tidak ternyata batang penisku yang sudah tegak itu mendesak hebat ke atas sampai kepala penisku tanpa terasa melongok keluar dari dalam celana dalamku. Begitu besar dan tebal mendongak ke atas persis di bawah pusarku. Kepala penisku kelihatan bengkak memerah karena tegang yang tak terkira. Batang penisku tidak terlalu panjang memang hanya sekitar 14 centi, namun ukuran diameternya cukup besar dan yang paling membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip sekali dengan milik bintang film porno “Rocco Siffredi”.., montok dan berurat.
Kuusap pelan batang penisku yang sedang berdiri nakal itu dari balik celana dalam. mm.., terasa begitu nikmat. Kurasakan ada sedikit cairan bening yang keluar dan menempel pada jemari tanganku. mm.., bagaimanapun juga batang penisku ini pernah merobek dan merenggut keperawanan Dina. Tass.., Sekelebat bayangan wajah Dina seolah berada di depan pelupuk mataku. Aku seolah tersadar kembali.
Astaga.., aah.., apa yang aku lakukan ini?, nuraniku seakan menjerit. Sejenak pikiranku berkecamuk. Dan ketika bayangan wajah kekasihku Selva muncul, batinku semakin menjerit. aah.., apa yang aku lakukan Selva..? Terjadi perang berkecamuk di dalam batinku. Nuraniku mengatakan agar aku sadar mengingat resiko buruk yang mungkin terjadi dengan perbuatan bejatku, namun dilain pihak pikiranku mengatakan sangat ingin mencumbu dan melampiaskan nafsu seks-ku kepada Tante Vivi. Sikap Tante Vivi bagiku merupakan kejutan besar yang menggairahkan hati. Aku tak ingin melewatkan kesempatan indah yang tak mungkin dilain waktu akan terulang lagi. Batinku menjerit namun pikiranku yang dipenuhi nafsu seolah lebih kuat. Entah berapa lama aku memejamkan mata menanti perang di batinku akan berakhir. Aku merasa imanku terlalu lemah sedangkan darah mudaku yang penuh dengan gejolak birahi terlalu begitu perkasa.
Ketika aku membuka kedua mataku kembali kulihat Tante Vivi sudah tak berada di hadapanku lagi. Semula aku sedikit heran, lalu instingku menoleh ke samping kiri dan.., Astagaa.., mataku terbeliak kaget menyaksikan pemandangan indah yang begitu luar biasa.., begitu mempesona.., begitu menggairahkan.., begitu aahh..
Kedua mataku melotot sampai ingin keluar menyaksikan tubuh Tante Vivi yang kini ternyata telah berada di atas pembaringan tanpa tertutup sehelai benang. Betapa begitu putih mulus tubuh moleknya yang bugil telanjang bulat, jauh lebih putih dari tubuh Dina.., memamerkan semua keindahan, kemulusan dan kemontokan lekak-lekuk tubuhnya yang bak gadis usia remaja.
Tante Vivi
Gairah Tante Vivi 01
January 24, 2008 |
Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.
9.15 malam: Aku masih ragu-ragu.., berangkat.., tidak.., berangkat.., tidak.
9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.
“Lho.., Ar.., kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?”, tanyanya kendengaran agak kecewa.
“Mm.., gimana ya Tante.., agak gerimis nih di sini..”, sahutku beralasan.
“Masa iya Ar.., yaah.., kalo gitu Tante jemput aja yaa..”, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.
“Waah.., tidak usah deh Tante.., okelah saya ke sana sekarang Tante.., mm Selva saya ajak ya Tante..”, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi..
“iih.., jangan Ar.., Selva jangan diajak.., mm pokoknya ke sini aja dulu Ar.., yaa.., Tante tunggu.., Klik”, sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek.., kaya pakar wae.., sekarang baru kena getahnya.
Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin
.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.
Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.
“aahh.., akhirnya dateng juga kamu Ar..”, katanya ramah dari balik pintu depan.
“Iya.., Tante..”, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.
“Agak gerimis ya Ar..”, tanyanya seolah tak mau tau.
“Hsii..”, Tanpa sadar aku terbersin.
“Eehh.., kamu Flu Ar..”, tanyanya kemudian.
Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. “Klik..”, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.
“Pipimu dingin sekali Ar.., kamu pasti masuk angin yaa.., Tante bikinin susu jahe anget yaa..”, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. “Duh.., cantiknya”. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.
“Kamu duduk dulu Ar.., Tante ke belakang dulu..”, sahutnya pelan.
Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bagai penari Jaipong.
Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang tempat dudukku. Selebihnya berupa lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai mengamati lama-lama.
Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.
“Waah.., asiik nih kelihatannya.., wangi lagi baunya.., mm..”, kataku spontan.
“Pelan-pelan Ar.., masih panas..”, sahutnya pendek, sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.
“Gimana kuliah Selva Ar.., kapan nih rencana mau majunya..”, tanya Tante Vivi kemudian.
“Entah Tante.., setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..”, sahutku polos.
“iih.., kamu ini gimana sih Ar.., pacarnya sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya..”, ujar Tante Vivi setengah bercanda.
“aah.., Tau aja Tante.., tidak salah..”, sahutku sambil ketawa nyaring.
“Kamu menyukai dia Ar..”, tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas menanggapi candaku.
” Waah.., Tante ini gimana sih.., ya jelas dong Tante.., lagipula sekarang kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini.., saya mencintainya Tante..”, sahutku sedikit serius.
Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.
“Tidak Ar.., Tante khan cuman nanya.., soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama kamu..”, ujarnya kemudian.
“Jangan kuatir deh Tante..”, sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di lidah dan kerongkonganku.
“Komputernya di taruh mana Tante..”, tanyaku tanpa memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.
“Tuh.., di kamar kerja Tante..”, sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.
“Lalu tunggu apalagi nih..”, ujarku setengah bercanda.
“Apanya..?”, tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.
“Lhoh.., katanya pengen diker.., eeh diajarin..”, lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. Untung tidak kebablasan ngomomg.
“ooh.., iya.., aduuh Tante sampai kaget.., Yuk ke kamar Ar..”, sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan.
“Masuk Ar.., sorry ruangannya agak berantakan..”, ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini. Di depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah.., ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo.
“Waduuh.., ini tempat kerja apa kamar Tante..?”, tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang berukuran 3×4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.
“Dua-duanya Ar.., ya kamar kerja ya.., tempat tidur.., mm.., Tante khan cuman sendirian di rumah ini Ar..”, sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.
“Sendirian.., maksud Tante?”, tanyaku kepadanya tak mengerti.
“Lhoh.., apa Selva tidak pernah bilang sama kamu.., Tante khan.., sudah bercerai Ar..”, sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya sedikit terpatah-patah.
Astaga.., seruku dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun.., kenapa aku tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii.., hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan.., pikirku mulai ngeres lagi.
“ooh.., maaf Tante saya baru tahu sekarang..”, ujarku lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.
” Udahlah Ar.., itu masa lalu.., tidak usah diungkit lagi..”, ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang indah.
Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak membantunya.
“Sini Ari bantu Tante..”, kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah yang masih tersisa.
“iih sudah Ar.., tidak usah.., kok kamu ikutan repot..”, sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2 detik.
” Tante tidak menikah lagi..?”, tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, jangan-janga ia marah atau sedih kembali. Namun ternyata tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.
“Siapa yang mau sama aku Ar..?”
“aah.., Ari kira banyak Tante..”
“Siapaa..?”
“Ari juga mau Tante..”, kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke samping.
“Hik.., hik.., kamu ini ada-ada aja Ar.., jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki jaman sekarang..”, ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil memegangi majalah.
“Kenapa Tante.. “, tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.
“Sudahlah Ar.., jangan bicara masalah itu..”. Akupun tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.
Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard, sambung ke stavolt.., sudah beres.
“Sudah beres Tante.., mm.., mau sambung ke internet..?”, tanyaku puas. Agak keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.
“aah masa..?, secepat itu Ar..?”, tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.
“Lha.., iya.., gampang khan..”, sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah tak yakin.
“Makanya dicoba dulu dong Tante.., biar tidak nanya-nanya lagi.., mana nih stop kontaknya”, tanyaku kemudian.
“iih.., hik.., hik.., gitu aja sewot.., jahat kamu Ar.., hik.., hik.., ehem.., itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar..”, jawabnya sambil setengah tertawa kecil.
Aku melongok ke bawah meja.., astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak di situ.., sejenak aku melongo.
“Kenapa Ar..?”
“Ooh tidak Papa Tante..”.
Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini. Sedang lampu meja kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan astaga.., aku terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah.
Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi merosot ke bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. “Yaa aammpuunn..”, bisikku lirih tanpa sadar, “Ia tidak pake Behaa..”
Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5 detik saja.., bagiku itu sudah cukup lama, Tante Vivi seolah baru menyadari ia menjerit lirih.
“iih..”, serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku minta maaf juga kepadanya.
“Maaf Tante.., sa.., Ari tidak sengaja..”, ujarku cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.
“Sudahlah.., Ar..”, sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.
January 24, 2008 |
Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.
9.15 malam: Aku masih ragu-ragu.., berangkat.., tidak.., berangkat.., tidak.
9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.
“Lho.., Ar.., kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?”, tanyanya kendengaran agak kecewa.
“Mm.., gimana ya Tante.., agak gerimis nih di sini..”, sahutku beralasan.
“Masa iya Ar.., yaah.., kalo gitu Tante jemput aja yaa..”, balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.
“Waah.., tidak usah deh Tante.., okelah saya ke sana sekarang Tante.., mm Selva saya ajak ya Tante..”, sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi..
“iih.., jangan Ar.., Selva jangan diajak.., mm pokoknya ke sini aja dulu Ar.., yaa.., Tante tunggu.., Klik”, sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek.., kaya pakar wae.., sekarang baru kena getahnya.
Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin
.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.
Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.
“aahh.., akhirnya dateng juga kamu Ar..”, katanya ramah dari balik pintu depan.
“Iya.., Tante..”, sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.
“Agak gerimis ya Ar..”, tanyanya seolah tak mau tau.
“Hsii..”, Tanpa sadar aku terbersin.
“Eehh.., kamu Flu Ar..”, tanyanya kemudian.
Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. “Klik..”, sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.
“Pipimu dingin sekali Ar.., kamu pasti masuk angin yaa.., Tante bikinin susu jahe anget yaa..”, sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. “Duh.., cantiknya”. Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.
“Kamu duduk dulu Ar.., Tante ke belakang dulu..”, sahutnya pelan.
Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bagai penari Jaipong.
Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang tempat dudukku. Selebihnya berupa lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai mengamati lama-lama.
Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.
“Waah.., asiik nih kelihatannya.., wangi lagi baunya.., mm..”, kataku spontan.
“Pelan-pelan Ar.., masih panas..”, sahutnya pendek, sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.
“Gimana kuliah Selva Ar.., kapan nih rencana mau majunya..”, tanya Tante Vivi kemudian.
“Entah Tante.., setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..”, sahutku polos.
“iih.., kamu ini gimana sih Ar.., pacarnya sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya..”, ujar Tante Vivi setengah bercanda.
“aah.., Tau aja Tante.., tidak salah..”, sahutku sambil ketawa nyaring.
“Kamu menyukai dia Ar..”, tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas menanggapi candaku.
” Waah.., Tante ini gimana sih.., ya jelas dong Tante.., lagipula sekarang kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini.., saya mencintainya Tante..”, sahutku sedikit serius.
Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.
“Tidak Ar.., Tante khan cuman nanya.., soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama kamu..”, ujarnya kemudian.
“Jangan kuatir deh Tante..”, sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di lidah dan kerongkonganku.
“Komputernya di taruh mana Tante..”, tanyaku tanpa memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.
“Tuh.., di kamar kerja Tante..”, sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.
“Lalu tunggu apalagi nih..”, ujarku setengah bercanda.
“Apanya..?”, tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.
“Lhoh.., katanya pengen diker.., eeh diajarin..”, lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. Untung tidak kebablasan ngomomg.
“ooh.., iya.., aduuh Tante sampai kaget.., Yuk ke kamar Ar..”, sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan.
“Masuk Ar.., sorry ruangannya agak berantakan..”, ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini. Di depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah.., ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo.
“Waduuh.., ini tempat kerja apa kamar Tante..?”, tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang berukuran 3×4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.
“Dua-duanya Ar.., ya kamar kerja ya.., tempat tidur.., mm.., Tante khan cuman sendirian di rumah ini Ar..”, sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.
“Sendirian.., maksud Tante?”, tanyaku kepadanya tak mengerti.
“Lhoh.., apa Selva tidak pernah bilang sama kamu.., Tante khan.., sudah bercerai Ar..”, sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya sedikit terpatah-patah.
Astaga.., seruku dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun.., kenapa aku tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii.., hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan.., pikirku mulai ngeres lagi.
“ooh.., maaf Tante saya baru tahu sekarang..”, ujarku lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.
” Udahlah Ar.., itu masa lalu.., tidak usah diungkit lagi..”, ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang indah.
Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak membantunya.
“Sini Ari bantu Tante..”, kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah yang masih tersisa.
“iih sudah Ar.., tidak usah.., kok kamu ikutan repot..”, sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2 detik.
” Tante tidak menikah lagi..?”, tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, jangan-janga ia marah atau sedih kembali. Namun ternyata tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.
“Siapa yang mau sama aku Ar..?”
“aah.., Ari kira banyak Tante..”
“Siapaa..?”
“Ari juga mau Tante..”, kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke samping.
“Hik.., hik.., kamu ini ada-ada aja Ar.., jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki jaman sekarang..”, ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil memegangi majalah.
“Kenapa Tante.. “, tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.
“Sudahlah Ar.., jangan bicara masalah itu..”. Akupun tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.
Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard, sambung ke stavolt.., sudah beres.
“Sudah beres Tante.., mm.., mau sambung ke internet..?”, tanyaku puas. Agak keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.
“aah masa..?, secepat itu Ar..?”, tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.
“Lha.., iya.., gampang khan..”, sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah tak yakin.
“Makanya dicoba dulu dong Tante.., biar tidak nanya-nanya lagi.., mana nih stop kontaknya”, tanyaku kemudian.
“iih.., hik.., hik.., gitu aja sewot.., jahat kamu Ar.., hik.., hik.., ehem.., itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar..”, jawabnya sambil setengah tertawa kecil.
Aku melongok ke bawah meja.., astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak di situ.., sejenak aku melongo.
“Kenapa Ar..?”
“Ooh tidak Papa Tante..”.
Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini. Sedang lampu meja kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan astaga.., aku terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah.
Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi merosot ke bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. “Yaa aammpuunn..”, bisikku lirih tanpa sadar, “Ia tidak pake Behaa..”
Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5 detik saja.., bagiku itu sudah cukup lama, Tante Vivi seolah baru menyadari ia menjerit lirih.
“iih..”, serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku minta maaf juga kepadanya.
“Maaf Tante.., sa.., Ari tidak sengaja..”, ujarku cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.
“Sudahlah.., Ar..”, sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.
Lesbian Tante Kesepian
Kisah Sang Tante
June 4, 2008 |
Tante Lis berusia 45 tahun dengan ukuran payudara 38 dan tubuh yang ideal. Dia bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tinggal di Yogyakarta. Sedangkan Ibu Susi berusia 40 tahun dengan ukuran payudara 38 dan tubuh yang ideal. Dia bekerja sebagai dosen di Malang dan juga tinggal di sana. Suami mereka berdua adalah kakak beradik dan sibuk bekerja di luar negeri.
Mereka berdua menjadi lesbian ketika suatu sore Tante Lis ditelepon oleh seseorang yang mengaku sebagai relasi suaminya di Inggris, namanya Jennifer. Dia orang Amerika. Dia mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan tentang suaminya. Tante Lis disuruhnya datang ke hotel tempatnya menginap sore itu juga. Di Hotel Garuda. Kebetulan Ibu Susi sedang liburan di tempat Tante Lis. Sehingga diajak pula Ibu Susi. Setelah melapor ke resepsionis hotel, mereka berdua langsung menuju ke kamar Jennifer. Mereka disambut Jennifer sendiri.
“Selamat sore,” sapa Jennifer ramah dalam bahasa Indonesia meskipun agak kaku.
“Selamat sore,” jawab Tante Lis.
“Bisa ketemu dengan Jennifer,” sambung Tante Lis.
“Saya sendiri. Ibu siapa?”
“Saya Nyonya Hermawan,” jawab Tante Lis menyebutkan nama suaminya.
“Ooo… Maaf Bu. Saya tidak tahu.”
Jennifer lalu menjabat tangan Tante Lis.
“Dan ini kerabat saya,” kata Tante Lis.
“Susi,” kata Ibu Susi sambil menjabat tangan Jennifer.
“Mari, silakan masuk! Maaf kursinya saya pakai untuk menaruh tas. Saya hanya semalam di sini. Kita duduk di tempat tidur saja.”
Mereka bertiga masuk dan lalu duduk di tepian tempat tidur.
“Kenapa hanya semalam?” tanya Ibu Susi.
“Saya kebetulan hanya mampir untuk membicarakan masalah Pak Hermawan. Besok saya sudah berangkat ke Australia.”
“Bagaimana dengan suami saya?” tanya Tante Lis.
“Dia terlibat suatu masalah.”
Kemudian Jennifer menceritakan masalah yang dihadapi suami Tante Lis. Sampai akhirnya mereka bertiga terdiam beberapa saat. Tiba-tiba..
“Saya mohon kepada anda untuk menolong suami saya,” kata Tante Lis kepada Jennifer.
“Saya sebetulnya tidak bisa menolong Pak Hermawan. Bisa, asal…”
Jennifer tidak melanjutkan kata-katanya. Tetapi tangannya melepaskan kancing baju yang dipakai Tante Lis yang duduk di sampingnya. Tante Lis diam saja. Dibelainya bagian atas payudara kirinya yang masih ditutupi BH.
“Ehmmm… ehmmm… ehmmm…”
Kedua tangan Jennifer lalu bergerak ke belakang, melepas tali BH yang dipakai Tante Lis. Salah satu tangannya maju ke depan dan meremas payudara kanan Tante Lis.
“Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Ibu Susi yang sedang duduk di samping Tante Lis dan sedang membaca majalah terkejut mendengar suara yang keluar dari mulut Tante Lis. Dilihatnya kedua tangan Jennifer sedang meremas kedua payudara Tante Lis sedangkan kedua tangan Tante Lis melepas baju yang dipakai Jennifer. Sekarang bibir mereka berdua sudah saling menempel dan kedua lidah mereka saling mengulumdengan hangat. Ibu Susi yang melihat itu tidak kuat menahan nafsu. Diremasnya kedua payudaranya sendiri yang masih ditutupi pakaiannya.
Baju Tante Lis sekarang sudah terlepas dari tempatnya dan kedua tangannya melepas kaos dalam yang dipakai Jennifer sambil tetap berciuman. Bibir Tante Lis terlepas dari bibir Jennifer demi dilihatnya kedua payudara Jennifer yang ukurannya dua kali lebih besar dari miliknya meskipun tubuhnya biasa saja. Jennifer yang merasakan hal itu lalu merebahkan diri sambil menarik tubuh Tante Lis. Sehingga mulut Tante Lis jatuh tepat di atas payudara kiri Jennifer. Dijilatinya payudara kiri Jennifer tersebut sambil tangan kirinya memilin-milin puting payudara kanan Jennifer. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Ibu Susi melihat hal tersebut. Nafsunya semakin panas sehingga sekarang tangannya menarik tangan kiri Tante Lis dari payudara kanan Jennifer dan mulutnya ikut beraksi. Dijilatinya payudara kanan Jennifer sambil tangannya meremas payudara kanan Jennifer. Kedua tangan Jennifer akan meremas kedua payudara Tante Lis. Tetapi tangan kirinya dipegang tangan Tante Lis. Sedangkan tangan kanannya dipegang tangan Ibu Susi. Tante Lis dan Ibu Susi sibuk mempermainkan kedua payudara Jennifer sampai akhirnya Ibu Susi kelelahan dan terlentang di samping kanan Jennifer. Jennifer yang merasa tidak bisa apa-apa ketika kedua payudaranya dipermainkan kedua tamunya kemudian mengangkat kepala Tante Lis yang masih sibuk. Tante Lis tahu diri dan kemudian dia ikut terlentang di samping kiri Jennifer. Tidak lama, setelah Jennifer bangkit dari tempat tidur, Tante Lis menghampiri Ibu Susi. Tante Lis dengan cekatan melepas pakaian bagian atas Ibu Susi yang masih berpakaian lengkap.
Sekarang mereka berdua sudah setengah telanjang dan Tante Lis lalu menindih Ibu Susi. Kedua payudara mereka saling menempel. “Ouohhh…” Mulut mereka berdua sama-sama mengeluarkan suara yang disambut dengan kedua bibir mereka yang saling berciuman dan perang antar lidah. Jennifer sendiri setelah bangkit dari tempat tidur lalu melepas celana jeans yang dipakainya. Sekarang dia sudah telanjang bulat karena dia tidak memakai celana dalam. Dia mengambil dua buah dildo berukuran 20 cm dari dalam tasnya. Dia berbalik dan melihat ke tempat tidur. Tante Lis dan Ibu Susi sedang dalam puncak kenikmatan. Mereka berdua sudah telanjang bulat. Mereka berpelukan dan bergulingan di atas tempat tidur. Jennifer melemparkan salah satu dildo ke tempat tidur.Sedangkan yang satunya sedang menari-nari di kedua payudaranya sendiri. Dildo tersebut kemudian naik dan masuk ke dalam mulutnya. Dikeluar-masukkan dildo tersebut. Setelah puas, dildo tersebut turun ke bawah. Dimasukkannya dildo tersebut ke dalam lubang kemaluannya sepanjang 15 cm. Diputar-putar dan digesek-gesekkan dildo tersebut dalam lubang kemaluannya sambil dia menari-nari. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Jennifer terkejut dengan suara tersebut dan dilihatnya Tante Lis dan Ibu Susi sama-sama terlentang sehabis lelah bercumbu. Dilihatnya tangan Ibu Susi memberi isyarat untuk menghampirinya. Jennifer naik ke tempat tidur dan tangannya menggesek-gesekkan dildo yang dilemparnya tadi ke kedua payudara Ibu Susi bergantian. Sedangkan dildo yang satunya masih menggantung di kemaluannya sehingga mirip kemaluan laki-laki meskipun sudah keluar dengan panjang 15 cm. Kemudian dildo tersebut dengan pelan-pelan dimasukkan ke dalam lubang kemaluan Ibu Susi. Dikeluar-masukkan seolah-olah Jennifer adalah seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi seorang wanita. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Sedangkan dildo yang menari-nari di kedua payudara Ibu Susi sekarang sudah menjelajahi kemaluan Tante Lis. Setelah beberapa menit Jennifer mengeluarkan dildo dari dalam liang kemaluannya. Sekarang tangan kanannya mengeluar-masukkan dildo ke dalam lubang kemaluan Tante Lis dantangan kirinya mengeluar-masukkan dildo ke dalam kemaluan Ibu Susi. Kedua tangan Tante Lis dan Ibu Susi juga tidak tinggal diam. Kedua payudara Jennifer yang menantang dijadikan permainan kedua tangan mereka. Diremas, dipilin dan disentil putingnya. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…” Mereka bertiga akhirnya kelelahan. Setelah keluar untuk makan malam, mereka melanjutkan permainan mereka sampai pagi.
Pagi harinya Tante Lis dan Ibu Susi mengantarkan Jennifer ke Bandara. Jennifer meninggalkan masing-masing dildo untuk Tante Lis dan Ibu Susi. Keesokan harinya Ibu Susi juga kembali ke Malang karena masa liburannya sudah habis.
June 4, 2008 |
Tante Lis berusia 45 tahun dengan ukuran payudara 38 dan tubuh yang ideal. Dia bekerja sebagai ibu rumah tangga dan tinggal di Yogyakarta. Sedangkan Ibu Susi berusia 40 tahun dengan ukuran payudara 38 dan tubuh yang ideal. Dia bekerja sebagai dosen di Malang dan juga tinggal di sana. Suami mereka berdua adalah kakak beradik dan sibuk bekerja di luar negeri.
Mereka berdua menjadi lesbian ketika suatu sore Tante Lis ditelepon oleh seseorang yang mengaku sebagai relasi suaminya di Inggris, namanya Jennifer. Dia orang Amerika. Dia mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan tentang suaminya. Tante Lis disuruhnya datang ke hotel tempatnya menginap sore itu juga. Di Hotel Garuda. Kebetulan Ibu Susi sedang liburan di tempat Tante Lis. Sehingga diajak pula Ibu Susi. Setelah melapor ke resepsionis hotel, mereka berdua langsung menuju ke kamar Jennifer. Mereka disambut Jennifer sendiri.
“Selamat sore,” sapa Jennifer ramah dalam bahasa Indonesia meskipun agak kaku.
“Selamat sore,” jawab Tante Lis.
“Bisa ketemu dengan Jennifer,” sambung Tante Lis.
“Saya sendiri. Ibu siapa?”
“Saya Nyonya Hermawan,” jawab Tante Lis menyebutkan nama suaminya.
“Ooo… Maaf Bu. Saya tidak tahu.”
Jennifer lalu menjabat tangan Tante Lis.
“Dan ini kerabat saya,” kata Tante Lis.
“Susi,” kata Ibu Susi sambil menjabat tangan Jennifer.
“Mari, silakan masuk! Maaf kursinya saya pakai untuk menaruh tas. Saya hanya semalam di sini. Kita duduk di tempat tidur saja.”
Mereka bertiga masuk dan lalu duduk di tepian tempat tidur.
“Kenapa hanya semalam?” tanya Ibu Susi.
“Saya kebetulan hanya mampir untuk membicarakan masalah Pak Hermawan. Besok saya sudah berangkat ke Australia.”
“Bagaimana dengan suami saya?” tanya Tante Lis.
“Dia terlibat suatu masalah.”
Kemudian Jennifer menceritakan masalah yang dihadapi suami Tante Lis. Sampai akhirnya mereka bertiga terdiam beberapa saat. Tiba-tiba..
“Saya mohon kepada anda untuk menolong suami saya,” kata Tante Lis kepada Jennifer.
“Saya sebetulnya tidak bisa menolong Pak Hermawan. Bisa, asal…”
Jennifer tidak melanjutkan kata-katanya. Tetapi tangannya melepaskan kancing baju yang dipakai Tante Lis yang duduk di sampingnya. Tante Lis diam saja. Dibelainya bagian atas payudara kirinya yang masih ditutupi BH.
“Ehmmm… ehmmm… ehmmm…”
Kedua tangan Jennifer lalu bergerak ke belakang, melepas tali BH yang dipakai Tante Lis. Salah satu tangannya maju ke depan dan meremas payudara kanan Tante Lis.
“Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Ibu Susi yang sedang duduk di samping Tante Lis dan sedang membaca majalah terkejut mendengar suara yang keluar dari mulut Tante Lis. Dilihatnya kedua tangan Jennifer sedang meremas kedua payudara Tante Lis sedangkan kedua tangan Tante Lis melepas baju yang dipakai Jennifer. Sekarang bibir mereka berdua sudah saling menempel dan kedua lidah mereka saling mengulumdengan hangat. Ibu Susi yang melihat itu tidak kuat menahan nafsu. Diremasnya kedua payudaranya sendiri yang masih ditutupi pakaiannya.
Baju Tante Lis sekarang sudah terlepas dari tempatnya dan kedua tangannya melepas kaos dalam yang dipakai Jennifer sambil tetap berciuman. Bibir Tante Lis terlepas dari bibir Jennifer demi dilihatnya kedua payudara Jennifer yang ukurannya dua kali lebih besar dari miliknya meskipun tubuhnya biasa saja. Jennifer yang merasakan hal itu lalu merebahkan diri sambil menarik tubuh Tante Lis. Sehingga mulut Tante Lis jatuh tepat di atas payudara kiri Jennifer. Dijilatinya payudara kiri Jennifer tersebut sambil tangan kirinya memilin-milin puting payudara kanan Jennifer. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Ibu Susi melihat hal tersebut. Nafsunya semakin panas sehingga sekarang tangannya menarik tangan kiri Tante Lis dari payudara kanan Jennifer dan mulutnya ikut beraksi. Dijilatinya payudara kanan Jennifer sambil tangannya meremas payudara kanan Jennifer. Kedua tangan Jennifer akan meremas kedua payudara Tante Lis. Tetapi tangan kirinya dipegang tangan Tante Lis. Sedangkan tangan kanannya dipegang tangan Ibu Susi. Tante Lis dan Ibu Susi sibuk mempermainkan kedua payudara Jennifer sampai akhirnya Ibu Susi kelelahan dan terlentang di samping kanan Jennifer. Jennifer yang merasa tidak bisa apa-apa ketika kedua payudaranya dipermainkan kedua tamunya kemudian mengangkat kepala Tante Lis yang masih sibuk. Tante Lis tahu diri dan kemudian dia ikut terlentang di samping kiri Jennifer. Tidak lama, setelah Jennifer bangkit dari tempat tidur, Tante Lis menghampiri Ibu Susi. Tante Lis dengan cekatan melepas pakaian bagian atas Ibu Susi yang masih berpakaian lengkap.
Sekarang mereka berdua sudah setengah telanjang dan Tante Lis lalu menindih Ibu Susi. Kedua payudara mereka saling menempel. “Ouohhh…” Mulut mereka berdua sama-sama mengeluarkan suara yang disambut dengan kedua bibir mereka yang saling berciuman dan perang antar lidah. Jennifer sendiri setelah bangkit dari tempat tidur lalu melepas celana jeans yang dipakainya. Sekarang dia sudah telanjang bulat karena dia tidak memakai celana dalam. Dia mengambil dua buah dildo berukuran 20 cm dari dalam tasnya. Dia berbalik dan melihat ke tempat tidur. Tante Lis dan Ibu Susi sedang dalam puncak kenikmatan. Mereka berdua sudah telanjang bulat. Mereka berpelukan dan bergulingan di atas tempat tidur. Jennifer melemparkan salah satu dildo ke tempat tidur.Sedangkan yang satunya sedang menari-nari di kedua payudaranya sendiri. Dildo tersebut kemudian naik dan masuk ke dalam mulutnya. Dikeluar-masukkan dildo tersebut. Setelah puas, dildo tersebut turun ke bawah. Dimasukkannya dildo tersebut ke dalam lubang kemaluannya sepanjang 15 cm. Diputar-putar dan digesek-gesekkan dildo tersebut dalam lubang kemaluannya sambil dia menari-nari. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Jennifer terkejut dengan suara tersebut dan dilihatnya Tante Lis dan Ibu Susi sama-sama terlentang sehabis lelah bercumbu. Dilihatnya tangan Ibu Susi memberi isyarat untuk menghampirinya. Jennifer naik ke tempat tidur dan tangannya menggesek-gesekkan dildo yang dilemparnya tadi ke kedua payudara Ibu Susi bergantian. Sedangkan dildo yang satunya masih menggantung di kemaluannya sehingga mirip kemaluan laki-laki meskipun sudah keluar dengan panjang 15 cm. Kemudian dildo tersebut dengan pelan-pelan dimasukkan ke dalam lubang kemaluan Ibu Susi. Dikeluar-masukkan seolah-olah Jennifer adalah seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi seorang wanita. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…”
Sedangkan dildo yang menari-nari di kedua payudara Ibu Susi sekarang sudah menjelajahi kemaluan Tante Lis. Setelah beberapa menit Jennifer mengeluarkan dildo dari dalam liang kemaluannya. Sekarang tangan kanannya mengeluar-masukkan dildo ke dalam lubang kemaluan Tante Lis dantangan kirinya mengeluar-masukkan dildo ke dalam kemaluan Ibu Susi. Kedua tangan Tante Lis dan Ibu Susi juga tidak tinggal diam. Kedua payudara Jennifer yang menantang dijadikan permainan kedua tangan mereka. Diremas, dipilin dan disentil putingnya. “Aaahhh… aaahhh… aaahhh…” Mereka bertiga akhirnya kelelahan. Setelah keluar untuk makan malam, mereka melanjutkan permainan mereka sampai pagi.
Pagi harinya Tante Lis dan Ibu Susi mengantarkan Jennifer ke Bandara. Jennifer meninggalkan masing-masing dildo untuk Tante Lis dan Ibu Susi. Keesokan harinya Ibu Susi juga kembali ke Malang karena masa liburannya sudah habis.
Senin, 12 Januari 2009
hari ini tanggal 11 january 2009, aku sudah mulai menebar bibit ikan 7000 ekor, dan yang merawat adalah orang tuaku, aku sekarang cuman mengontrol keadaan,.. semalam pas saya menebar lele 2 galon plastik ternyata empang yang saya tumpahi ikan itu belum di pasang kawat pembuangan sehingga ikannya kebawa arus air, saya tidak tau tepat jumlah ikan yang terbawa arus itu tapi yang aku perkirakan sekitar 15 ekoranlah, lumayanlah.
aku berharap semoga tahun ini adalah tahun yang baik buat saya
aku berharap semoga tahun ini adalah tahun yang baik buat saya
Rabu, 07 Januari 2009
Pantun Adat
Bila dikaji ilmunya dapat
Bila dipakai hidup selamat
Bila diikut tiada sesat
Bila diturut banyaklah berkat
Bila diamalkan hidup mufakat
Bila ditaati sengketa tak dekat
Bila difahami hidup bersifat
Bila disimak sentosalah umat
Pantun berisi pepatah adat
Pantun mengandung petuah nasihat
Pantun dipakai dalam helat
Pantun dikaji dalam musyawarat
Pantun diurai mencari mufakat
Pantun dibilang mencapai sepakat
Di situ undang sama disukat
Di situ hukum sama diangkat
Di situ pusaka sama diingat
Di situ soko sama ditingkat
Di situ umat menunjukkan adat
Berikut beberapa contoh pantun adat yang berkembang di tengah masyarakat Melayu:
001. Lapun-melapun ke Inderagiri
Singgah sebentar ke Betipuh
Ampun hamba tegak berdiri
Ujudnya duduk dengan bersimpuh
068. Diradang-radang memasap
Tertangguk badar dan gulama
Dibilang-bilang meratap
Diurai si tambo lama
002. Tertangguk badar dan gulama
Tiga gurundang di hulunya
Diuraikan si tambo lama
Tiga undang dahulunya
069. Pertama undang silama-lama
Kedua undang sigemak-gemak
Ketiga undang simumbang jatuh
Itulah undang masa ketika
003. Dibelah-belah pertiga
Siraut pembelah rotan
Luhak dibaginya tiga
Adat dibaginya delapan
070. Berek-berek turun ke semak
Dari semak turun ke padi
Dari nenek turun ke mamak
Dari mamak turun ke kami
004. Jahit berjahit tepi kasur
Suji-bersuji tepi bantal
Kalau raib di dalam usul
Tilik saja pada yang asal
071. Rama-rama si kumbang janti
Hatib indah pulang berkuda
Patah tumbuh hilang berganti
Pusaka tinggal begitu juga
005. Dahulu rebab yang bertangkai
Kini kopi yang berbunga
Dahulu adat yang berpakai
Kini rodi yang berguna
072. Sejak berduku, berkelapa
Pandan tidak panjang lagi
Sejak bersuku, berkepala
Badan nan tidak senang lagi
006. Yang merah hanya saga
Yang kurik hanya kundi
Yang indah hanya bahasa
Yang baik hanya budi
073. Kilang tebu kilang tanak
Kilang sama diapikan
Dari nenek turun ke mamak
Pusaka jadi digantikan
007. Sengkono mudik ke hulu
Di mana tohor situ sekatkan
Pusaka nenek mamak yang terdahulu
Ada berbuhul berikatan
074. Orang Padang mencuci benang
Dilipat maka dipertiga
Kalau direntang hanya panjang
Elok singkatkan sekedar berguna
008. Pucuk ketaya akar cambai
Pucuk lempata orang patahkan
Bukannya saya cerdik pandai
Sunat pidato disembahkan
075. Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi karena karat
Hina manusia tidak berbudi
009. Tingkap papan kayu persegi
Riga-riga di pulau Angsa
Indah tampan karena budi
Tinggi bangsa karena bahasa
076. Limau purut dan limau manis
Tumbuh sebatang di tepi rawa
Kalau menjemput dengan manis
Orang pun datang dengan tertawa
010. Yang merumput yang kan memagar
Yang tertanam yang menumbangkan
Yang menjemput yang kan mengantar
Yang meminjam yang memulangkan
077. Kalau merumput dahan dikerat
Batang dipetik dengan seraga
Kalau menjemput dengan adat
Pulangkan balik dengan lembaga
011. Pabila meraut selodang buluh
Siapkan lidi buang miangnya.
Bila menjemput orang nan jauh
Siapkan nasi dengan hidangnya
078. Putus gading karena kerat
Belum jatuh sudahlah retak
Putus runding karena mufakat
Hukum jatuh benar terletak
012. Kalau ranting sudah bertangkai
Janganlah dililit-lilit juga
Kalau berunding sudah selesai
Jangan diungkit-ungkit juga
079. Jangan patahkan atap mengkuang
Atap patah kumbangpun lalu
Jangan patahkan cakap orang
Cakap patah orangnya malu
013. Kalau puting sudah bertangkai
Retak tangkai disampul balik
Kalau berunding sesama pandai
Gelak berderai timbal balik
080. Kalau banyak bertanam puding
Di mana busut di sana seminai
Kalau bijak dalam berunding
Di mana kusut di sana selesai
014. Sebelum menggali buah bengkuang
Galilah dahulu buah ketari
Sebelum mencari kesalahan orang
Carilah dahulu kesalahan sendiri
081. Jangan suka membuka dada
Dada terbuka lapuk bajunya
Jangan suka mengada-ada
Mengada-ada buruk lakunya
015. Mana yang laut dilautkan
Mana yang tasik ditasikkan
Mana yang patut dipatutkan
Mana yang baik dibaikkan
082. Kalau terbakar rumpun padi
Eloklah terbang dibuat suluh
Kalaulah kabar belum pasti
Eloklah buang berjauh-jauh
016. Kalau dinding julai berjulai
Banyaklah semut yang menyeragai
Kalau berunding berlalai-lalai
Banyaklah kusut yang tak selesai
083. Kerakap tumbuh di lantai
Pohon ijuk tumbuh berbanjar
Bercakap kami tak pandai
Mohon diberi tunjuk dan ajar
017. Yang kecil sigama-gama
Yang besar sijalar-jalar
Yang kecil disebut nama
Yang besar dihimbau gelar
084. Seluk berseluk daunnya terap
Terap diampai menjadi benang
Eloklah elok dalam bercakap
Cakap sampai maksudnya terang
018. Jika batang padi yang rebah
Tegakkan tumang di ujung tanjung
Jika datang kan kami sembah
Yang tak datang kan kami junjung
085. Kalau batang sudah condong
Buah yang lebat menjadi luruh
Kalau orang sudah tersinggung
Semua sahabat menjadi musuh
019. Kalau sekali-kali berderap
Lama-lama pastilah patah
Kalau sekali tersalah cakap
Lama-lama jadi berbantah
086. Kalau rabuk ada serbuknya
Kalau campak ada pompatnya
Kalau duduk ada patutnya
Kalau tegak ada tempatnya
020. Jangan memalu-malu arang
Arang dipalu pecah berbelah
Jangan memalu-malukan orang
Orang malu kita pun susah
087. Banyak orang pandai berkitab
Sedikit saja pandai bersyair
Banyak orang pandai bercakap
Sedikit saja pandai berpikir
021. Kalau duduk tulis-menulis
Elok juga membaca kitab
Kalau duduk di dalam majelis
Elok-elok kalau bercakap
088. Kalau berkitab membaca syair
Banyaklah orang datang mendengar
Kalau cakap tiada berpikir
Banyaklah orang yang bertengka
022. Kalau berkitab sambil menulis
Jangan sampai dawat terbuang
Kalau bercakap di dalam majelis
Jangan sampai mengumpat orang
089. Kalau kita tidak bersuluh
Jangan takut berjalan malam
Kalau kita tidak bermusuh
Jangan takut makan setalam
023. Kalau kita tidak bergalah
Jangan takut membentang kajang
Kalau kita tidak bersalah
Jangan takut ditantang orang
090. Kalau rotan dipanjat benalu
Sekerat disimpan dalam bakul
Kalau beban sudah ke bahu
Berat ringan wajib dipikul
024. Kalau kacip sudah dibuka
Buah pinang yang ditunangnya
Kalau aib sudah ke muka
Kalah menang kan imbangnya
091. Kalau busut beranai-anai
Manakah buluh menjadi sirih
Kalau kusut tidak selesai
Manakah keruh menjadi jernih
025. Kalau dinding tidak berlantai
Apa gunanya kayu dipepat
Kalau runding tidak selesai
Apa gunanya penghulu adat
092. Kalau tanduk menjadi gading
Ambillah sirih agak seganggang
Kalau duduk dalam berunding
Pikiran jernih dada pun lapang
026. Kalau busut cari bangkalnya
Bila buluh cari bukunya
Kalau kusut cari pangkalnya
Bila keruh cari hulunya
093. Kalau payah mencari pukat
Carilah jaring yang di kuala
Kalau payah mencari mufakat
Carilah runding balik semula
027. Kalau sampai ke laut gading
Belokkan kolek mencari selat
Kalau bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
094. Kalau salah meminjam pukat
Salah pula meminjam tengkalak
Kalau salah di dalam adat
Salah pula di dalam syarak
028. Kalau tak ada di dalam pukat
Cobalah cari di dalam tengkalak
Kalau tak ada di dalam adat
Cobalah cari di dalam syarak
095. Kalau belera sudah direbus
Takkan dapat dimakan mentah
Kalau perkara sudah diputus
Takkan dapat dirobah-robah
029. Kalau hendak merebus belera
Cencang dulu tampuk putiknya
Kalau hendak memutus perkara
Timbanglah dulu buruk baiknya
096. Tembuk tabir membawa benang
Tembuk dinding dibawakan damar
Tertumbuk pikir bawa bertenang
Tertumbuk runding bawa bersabar
030. Kalau beratapkan daun nanas
Banyaklah hujan jatuh ke talam
Kelau bercakap berkeras-keras
Banyaklah orang yang salah paham
097. Daripada menakuk rumpun buluh
Elok menetak bunga cendawan
Daripada duduk bersama musuh
Eloklah tegak bersama kawan
031. Hari panas jangan ke laut
Kalau ke laut kapal tergalang
Hati panas jangan diturut
Kalau diturut akal pun hilang
098. Jangan mengipas-ngipas arang
Kalau dikipas banyak baranya
Jangan memanas-manaskan orang
Kalau panas banyak maranya
032. Kalau buluh tinggal di tanah
Batang sorek dicelis-celis
Kalau bodoh tinggal di rumah
Yang cerdik masuk ke majelis
099. Jangan menetak urat bawang
Urat bawang ada gambutnya
Jangan menolak niat orang
Niat orang ada maksudnya
033. Jangan menampi-nampi kacang
Kalau ditampi busuk buahnya
Jangan mengapi-apikan orang
Kalau berapi buruk padanya
100. Kalau keladi sudah ditanam
Janganlah lagi meminta talas
Kalau budi sudah ditanam
Janganlah lagi meminta balas
034. Kalau memagar rumpun bawang
Pagar dahulu lapis berlapis
Kalau mendengar pengaduan orang
Dengarkan dulu habis-habis
101. Jangan suka mencabut padi
Kalau dicabut hilang buahnya
Jangan suka menyebut budi
Kalau disebut hilang tuahnya
035. Kalau makan keladi muyang
Jangan lupa pada bungkalnya
Kalau termakan ke budi orang
Janganlah lupa pada asalnya
102. Apalah tanda batang tebu
Batang tebu halus uratnya
Apalah tanda orang berilmu
Orang berilmu halus sifatnya
036. Apalah tanda batang padi
Tumbuh di ladang lebat buahnya
Apalah tanda orang berbudi
Elok dipandang baik bahasanya
103. Apalah tanda batang bengkal
Batang bengkal banyak bukunya
Apalah tanda orang berakal
Orang berakal bijak lakunya
037. Apalah tanda batang kulim
Batang kulim rindang dahannya
Apalah tanda orang alim
Orang alim lapang dadanya
104. Apalah tanda batang putat
Batang putat bersegi buahnya
Apalah tanda orang beradat
Orang beradat tinggi marwahnya
038. Apalah tanda batang betik
Batang betik panjang pangkalnya
Apalah tanda orang yang cerdik
Orang cerdik panjang akalnya
105. Apalah tanda pisang tanaman
Pisang tanaman banyak akarnya
Apakah tanda orang beriman
Orang beriman banyak sabarnya
039. Apalah tanda batang keladi
Batang keladi di tanah isinya
Apalah tanda orang berbudi
Orang berbudi rendah hatinya
106. Kalau paku batang berduri
Duri mencabik-cabik baju
Elok baju orang tak iri
Irinya menengok baik laku
040. Apalah tanda padi berbuah
Lebatlah tangkai daunnya subur
Apalah tanda negeri bertuah
Rakyatnya damai hidupnya makmur
107. Anak rusa cepat berlari
Diikat kaki terlompat-lompat
Banyak harta dapat dicari
Sahabat sejati payah didapat
041. Anak kuda berlari-lari
Berlarilah dengan tali-talinya
Banyak harta orang tak iri
Iri orang menengok budinya
108. Banyak orang mandi berenang
Tidak peduli kapalnya karam
Banyak orang mencari senang
Tidak peduli halal dan haram
042. Banyak orang mendaki bukit
Bukit didaki bergesa-gesa
Banyak orang mencari duit
Duit dicari badan binasa
109. Banyak orang menjerat rusa
Sudah terlupa meniup api
Banyak orang berbuat dosa
Sudah lupa hidup kan mati
043. Banyak orang mencari katung
Tidak peduli bulannya terang
Banyak orang mencari untung
Tidak peduli merugikan orang
110. Kalau menangguk-nangguk udang
Tangguk dianyam rapat-rapat
Kalau duduk di tempat orang
Duduklah dengan duduk bersifat
044. Berkait-kait akan beluru
Berkelok-kelok lilit rotan
Berpahit-pahit kita dahulu
Barulah elok di hari kemudian
111. Kalau berkayuh menyusur batang
Tandanya sampan akan ke darat
Kalau mengeluh pagi dan petang
Tandanya badan kian melarat
045. Kalau bergalah jangan bergayuh
Kalau berkayuh bertambah basah
Kalau bersusah jangan mengeluh
Kalau mengeluh bertambah susah
112. Sudah banyak orang bergalah
Yang berenang hanya sedikit
Sudah banyak orang yang kalah
Yang menang hanya sedikit
046. Dalam meniup ingatlah api
Dalam makan ingatlah tulang
Dalam hidup ingatlah mati
Dalam berjalan ingatlah pulang
113. Ingat-ingat mencari kerang
Mencari kerang ada tempatnya
Ingat-ingat di negeri orang
Negeri orang ada adatnya
047. Ingat-ingat merendam kain
Kain itu ada kapasnya
Ingat-ingat dalam bermain
Bermain itu ada batasnya
114. Kalau sudah cukup berenang
Cepat-cepatlah naik ke darat
Kalau sudah hidupnya senang
Ingat-ingatlah orang melarat
048. Kalau sudah biasa berenang
Ingat-ingat pada basahnya
Kalau sudah merasa senang
Ingat-ingat ke masa susahnya
115. Kain dicelup berwarna biru
Celup sekali dilipat-lipat
Pakaian hidup aib dan malu
Pakaian mati amal ibadat
049. Banyak orang renang berenang
Sudah terlupa ke jalan darat
Banyak orang bersenang lenang
Sudah terlupa jalan akhirat
116. Sungguh elok berbatang lebat
Redup rindang tiada basahnya
Sungguh elok orang bertobat
Hidup senang hilang dosanya
050. Banyak-banyak membuat jermal
Jermal dibuat di air dangkal
Banyak-banyaklah berbuat amal
Amal dibuat menjadi bekal
117. Batang betik batang bertarah
Batang keladi manisnya ada
Orang cerdik penyambung lidah
Orang berani pelapis dada
051. Sungguh elok berbatang lebar
Tidak nampak basah kuyupnya
Sungguh elok orang penyabar
Tidak nampak susah hidupnya
118. Retak buah sigama-gama
Retak tanduk liku berliku
Minta petuah kepada ulama
Minta petunjuk pada yang tahu
052. Retak urat ada bercanggah
Retak bara ada tengarang
Minta kuat kepada gajah
Minta suara kepada enggang
119. Belum jatuh sudah berdetak
Detak mengirai balik berbalik
Hukum jatuh benar terletak
Gelak berderai timbal balik
053. Kalau elang tari menari
Kalau pipit loncat meloncat
Kalau hilang cari mencari
Kalau sakit obat mengobat
120. Kalau menebang sama mengerat
Kalau membakar sama menyuluh
Kalau menimbang sama berat
Kalau menakar samalah penuh
054. Kalau memukat sama menimba
Kalau melenggang sama pergi
Kalau mendapat sama berlaba
Kalau hilang sama merugi
121. Yang padat bernama besi
Yang berongga tanda beruang
Yang adat sama diisi
Yang lembaga sama dituang
055. Yang perahu beruang timba
Yang sauh tambang terpaut
Yang berbau buang ke rimba
Yang keruh buang ke laut
122. Mana galah digalahkan juga
Kalau layar dilayarkan pula
Mana salah disalahkan juga
Kalau benar dibenarkan pula
056. Kalaulah tahu patah akarnya
Tebanglah pohon sekecil-kecilnya
Kalaulah tahu salah benarnya
Timbanglah hukum seadil-adilnya
123. Patah kecil kita tampunkan
Patah besar kita tumbangkan
Salah kecil kita ampunkan
Salah besar kita timbangkan
057. Galah besar bergalah kecil
Galah kecil kita lapisi
Salah besar kita perkecil
Salah kecil kita habisi
124. Kalau memandang jangan merentus
Kalau melendan jangan melanyah
Kalau mencencang jangan memutus
Kalau makan jangan memunah
058. Memanggang sepat bersela-sela
Menjamur pukat berkering-kering
Tegang adat berjela-jela
Kendur adat berdenting-denting
125. Yang melentur yang berat
Yang bertangkai yang dituai
Yang seukur yang dikerat
Yang sesuai yang akan dipakai
059. Yang berdering yang mematah
Yang berabu yang kan membakar
Yang bertaring yang mengerkah
Yang berkuku yang kan mencakar
126. Alim nampak kepada rupa
Alim dijunjung sampai tua
Yatim anak tiada berbapa
Yatim kampung tiada bertua
060. Kalau berbuah ada ranumnya
Bila cendawan ada kelatnya
Kalau menyanggah ada hukumnya
Bila melawan ada adatnya
127. Jangan menetakkan parang patah
Buat hulunya sebatang ruyung
Jangan menegakkan benang basah
Membuat malu orang sekampung
061. Kalau sudah duduk beramai
Untuk apa duduk seorang
Kalau sudah duduk berdamai
Untuk apa mengajak perang
128. Kalau sudah menebuk gading
Tebuk menjadi ukiran tepat
Kalau sudah duduk berunding
Eloklah cari jalan mufakat
062. Kalau lepat sudah dikukus
Jerang ketupat dalam kuali
Kalau mufakat sudah putus
Pegang erat sampai ke mati
129. Anak itik terlompat-lompat
Anak beruk termangu-mangu
Niat baik kita percepat
Niat yang buruk ditunggu dulu
063. Terbang tempua membumbung tinggi
Anak garuda layang melayang
Orang tua-tua dijunjung tinggi
Anak muda-muda dikasih sayang
130. Anak ular mati terpukul
Anak tapah selam menyelam
Yang benar pastilah timbul
Yang salah akan tenggelam
064. Kalau redup pasanglah kandil
Bila sepi pasanglah pukat
Kalau hidup peganglah wakil
Bila mati peganglah amanat
131. Pisau peraut baru bertuang
Beri bertali dengan rotan saga
Rantau diturut dengan udang
Negeri dihuni dengan lembaga
065. Yang semah ada helatnya
Yang bidan ada bangsanya
Yang rumah ada adatnya
Yang tepian ada bahasanya
132. Limau purut limau manis
Tumbuh sebatang di tepi rawa
Kalau menjemput orang nan jauh
Siapkan nasi dengan hidangya
066. Jangan patahkan atap mengkuang
Atap patah kumbangpun lalu
Jangan patahkan cakap orang
Cakap patah orangnya malu
133. Hari panas jangan ke laut
Kalau ke laut kapal tergalang
Hati panas jangan diturut
Kalau diturut akalpun hilang
067. Banyak orang mandi berenang
Tidak peduli kapalnya karam
Banyak orang mencari untung
Tidak peduli merugikan orang
Bila dipakai hidup selamat
Bila diikut tiada sesat
Bila diturut banyaklah berkat
Bila diamalkan hidup mufakat
Bila ditaati sengketa tak dekat
Bila difahami hidup bersifat
Bila disimak sentosalah umat
Pantun berisi pepatah adat
Pantun mengandung petuah nasihat
Pantun dipakai dalam helat
Pantun dikaji dalam musyawarat
Pantun diurai mencari mufakat
Pantun dibilang mencapai sepakat
Di situ undang sama disukat
Di situ hukum sama diangkat
Di situ pusaka sama diingat
Di situ soko sama ditingkat
Di situ umat menunjukkan adat
Berikut beberapa contoh pantun adat yang berkembang di tengah masyarakat Melayu:
001. Lapun-melapun ke Inderagiri
Singgah sebentar ke Betipuh
Ampun hamba tegak berdiri
Ujudnya duduk dengan bersimpuh
068. Diradang-radang memasap
Tertangguk badar dan gulama
Dibilang-bilang meratap
Diurai si tambo lama
002. Tertangguk badar dan gulama
Tiga gurundang di hulunya
Diuraikan si tambo lama
Tiga undang dahulunya
069. Pertama undang silama-lama
Kedua undang sigemak-gemak
Ketiga undang simumbang jatuh
Itulah undang masa ketika
003. Dibelah-belah pertiga
Siraut pembelah rotan
Luhak dibaginya tiga
Adat dibaginya delapan
070. Berek-berek turun ke semak
Dari semak turun ke padi
Dari nenek turun ke mamak
Dari mamak turun ke kami
004. Jahit berjahit tepi kasur
Suji-bersuji tepi bantal
Kalau raib di dalam usul
Tilik saja pada yang asal
071. Rama-rama si kumbang janti
Hatib indah pulang berkuda
Patah tumbuh hilang berganti
Pusaka tinggal begitu juga
005. Dahulu rebab yang bertangkai
Kini kopi yang berbunga
Dahulu adat yang berpakai
Kini rodi yang berguna
072. Sejak berduku, berkelapa
Pandan tidak panjang lagi
Sejak bersuku, berkepala
Badan nan tidak senang lagi
006. Yang merah hanya saga
Yang kurik hanya kundi
Yang indah hanya bahasa
Yang baik hanya budi
073. Kilang tebu kilang tanak
Kilang sama diapikan
Dari nenek turun ke mamak
Pusaka jadi digantikan
007. Sengkono mudik ke hulu
Di mana tohor situ sekatkan
Pusaka nenek mamak yang terdahulu
Ada berbuhul berikatan
074. Orang Padang mencuci benang
Dilipat maka dipertiga
Kalau direntang hanya panjang
Elok singkatkan sekedar berguna
008. Pucuk ketaya akar cambai
Pucuk lempata orang patahkan
Bukannya saya cerdik pandai
Sunat pidato disembahkan
075. Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi karena karat
Hina manusia tidak berbudi
009. Tingkap papan kayu persegi
Riga-riga di pulau Angsa
Indah tampan karena budi
Tinggi bangsa karena bahasa
076. Limau purut dan limau manis
Tumbuh sebatang di tepi rawa
Kalau menjemput dengan manis
Orang pun datang dengan tertawa
010. Yang merumput yang kan memagar
Yang tertanam yang menumbangkan
Yang menjemput yang kan mengantar
Yang meminjam yang memulangkan
077. Kalau merumput dahan dikerat
Batang dipetik dengan seraga
Kalau menjemput dengan adat
Pulangkan balik dengan lembaga
011. Pabila meraut selodang buluh
Siapkan lidi buang miangnya.
Bila menjemput orang nan jauh
Siapkan nasi dengan hidangnya
078. Putus gading karena kerat
Belum jatuh sudahlah retak
Putus runding karena mufakat
Hukum jatuh benar terletak
012. Kalau ranting sudah bertangkai
Janganlah dililit-lilit juga
Kalau berunding sudah selesai
Jangan diungkit-ungkit juga
079. Jangan patahkan atap mengkuang
Atap patah kumbangpun lalu
Jangan patahkan cakap orang
Cakap patah orangnya malu
013. Kalau puting sudah bertangkai
Retak tangkai disampul balik
Kalau berunding sesama pandai
Gelak berderai timbal balik
080. Kalau banyak bertanam puding
Di mana busut di sana seminai
Kalau bijak dalam berunding
Di mana kusut di sana selesai
014. Sebelum menggali buah bengkuang
Galilah dahulu buah ketari
Sebelum mencari kesalahan orang
Carilah dahulu kesalahan sendiri
081. Jangan suka membuka dada
Dada terbuka lapuk bajunya
Jangan suka mengada-ada
Mengada-ada buruk lakunya
015. Mana yang laut dilautkan
Mana yang tasik ditasikkan
Mana yang patut dipatutkan
Mana yang baik dibaikkan
082. Kalau terbakar rumpun padi
Eloklah terbang dibuat suluh
Kalaulah kabar belum pasti
Eloklah buang berjauh-jauh
016. Kalau dinding julai berjulai
Banyaklah semut yang menyeragai
Kalau berunding berlalai-lalai
Banyaklah kusut yang tak selesai
083. Kerakap tumbuh di lantai
Pohon ijuk tumbuh berbanjar
Bercakap kami tak pandai
Mohon diberi tunjuk dan ajar
017. Yang kecil sigama-gama
Yang besar sijalar-jalar
Yang kecil disebut nama
Yang besar dihimbau gelar
084. Seluk berseluk daunnya terap
Terap diampai menjadi benang
Eloklah elok dalam bercakap
Cakap sampai maksudnya terang
018. Jika batang padi yang rebah
Tegakkan tumang di ujung tanjung
Jika datang kan kami sembah
Yang tak datang kan kami junjung
085. Kalau batang sudah condong
Buah yang lebat menjadi luruh
Kalau orang sudah tersinggung
Semua sahabat menjadi musuh
019. Kalau sekali-kali berderap
Lama-lama pastilah patah
Kalau sekali tersalah cakap
Lama-lama jadi berbantah
086. Kalau rabuk ada serbuknya
Kalau campak ada pompatnya
Kalau duduk ada patutnya
Kalau tegak ada tempatnya
020. Jangan memalu-malu arang
Arang dipalu pecah berbelah
Jangan memalu-malukan orang
Orang malu kita pun susah
087. Banyak orang pandai berkitab
Sedikit saja pandai bersyair
Banyak orang pandai bercakap
Sedikit saja pandai berpikir
021. Kalau duduk tulis-menulis
Elok juga membaca kitab
Kalau duduk di dalam majelis
Elok-elok kalau bercakap
088. Kalau berkitab membaca syair
Banyaklah orang datang mendengar
Kalau cakap tiada berpikir
Banyaklah orang yang bertengka
022. Kalau berkitab sambil menulis
Jangan sampai dawat terbuang
Kalau bercakap di dalam majelis
Jangan sampai mengumpat orang
089. Kalau kita tidak bersuluh
Jangan takut berjalan malam
Kalau kita tidak bermusuh
Jangan takut makan setalam
023. Kalau kita tidak bergalah
Jangan takut membentang kajang
Kalau kita tidak bersalah
Jangan takut ditantang orang
090. Kalau rotan dipanjat benalu
Sekerat disimpan dalam bakul
Kalau beban sudah ke bahu
Berat ringan wajib dipikul
024. Kalau kacip sudah dibuka
Buah pinang yang ditunangnya
Kalau aib sudah ke muka
Kalah menang kan imbangnya
091. Kalau busut beranai-anai
Manakah buluh menjadi sirih
Kalau kusut tidak selesai
Manakah keruh menjadi jernih
025. Kalau dinding tidak berlantai
Apa gunanya kayu dipepat
Kalau runding tidak selesai
Apa gunanya penghulu adat
092. Kalau tanduk menjadi gading
Ambillah sirih agak seganggang
Kalau duduk dalam berunding
Pikiran jernih dada pun lapang
026. Kalau busut cari bangkalnya
Bila buluh cari bukunya
Kalau kusut cari pangkalnya
Bila keruh cari hulunya
093. Kalau payah mencari pukat
Carilah jaring yang di kuala
Kalau payah mencari mufakat
Carilah runding balik semula
027. Kalau sampai ke laut gading
Belokkan kolek mencari selat
Kalau bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
094. Kalau salah meminjam pukat
Salah pula meminjam tengkalak
Kalau salah di dalam adat
Salah pula di dalam syarak
028. Kalau tak ada di dalam pukat
Cobalah cari di dalam tengkalak
Kalau tak ada di dalam adat
Cobalah cari di dalam syarak
095. Kalau belera sudah direbus
Takkan dapat dimakan mentah
Kalau perkara sudah diputus
Takkan dapat dirobah-robah
029. Kalau hendak merebus belera
Cencang dulu tampuk putiknya
Kalau hendak memutus perkara
Timbanglah dulu buruk baiknya
096. Tembuk tabir membawa benang
Tembuk dinding dibawakan damar
Tertumbuk pikir bawa bertenang
Tertumbuk runding bawa bersabar
030. Kalau beratapkan daun nanas
Banyaklah hujan jatuh ke talam
Kelau bercakap berkeras-keras
Banyaklah orang yang salah paham
097. Daripada menakuk rumpun buluh
Elok menetak bunga cendawan
Daripada duduk bersama musuh
Eloklah tegak bersama kawan
031. Hari panas jangan ke laut
Kalau ke laut kapal tergalang
Hati panas jangan diturut
Kalau diturut akal pun hilang
098. Jangan mengipas-ngipas arang
Kalau dikipas banyak baranya
Jangan memanas-manaskan orang
Kalau panas banyak maranya
032. Kalau buluh tinggal di tanah
Batang sorek dicelis-celis
Kalau bodoh tinggal di rumah
Yang cerdik masuk ke majelis
099. Jangan menetak urat bawang
Urat bawang ada gambutnya
Jangan menolak niat orang
Niat orang ada maksudnya
033. Jangan menampi-nampi kacang
Kalau ditampi busuk buahnya
Jangan mengapi-apikan orang
Kalau berapi buruk padanya
100. Kalau keladi sudah ditanam
Janganlah lagi meminta talas
Kalau budi sudah ditanam
Janganlah lagi meminta balas
034. Kalau memagar rumpun bawang
Pagar dahulu lapis berlapis
Kalau mendengar pengaduan orang
Dengarkan dulu habis-habis
101. Jangan suka mencabut padi
Kalau dicabut hilang buahnya
Jangan suka menyebut budi
Kalau disebut hilang tuahnya
035. Kalau makan keladi muyang
Jangan lupa pada bungkalnya
Kalau termakan ke budi orang
Janganlah lupa pada asalnya
102. Apalah tanda batang tebu
Batang tebu halus uratnya
Apalah tanda orang berilmu
Orang berilmu halus sifatnya
036. Apalah tanda batang padi
Tumbuh di ladang lebat buahnya
Apalah tanda orang berbudi
Elok dipandang baik bahasanya
103. Apalah tanda batang bengkal
Batang bengkal banyak bukunya
Apalah tanda orang berakal
Orang berakal bijak lakunya
037. Apalah tanda batang kulim
Batang kulim rindang dahannya
Apalah tanda orang alim
Orang alim lapang dadanya
104. Apalah tanda batang putat
Batang putat bersegi buahnya
Apalah tanda orang beradat
Orang beradat tinggi marwahnya
038. Apalah tanda batang betik
Batang betik panjang pangkalnya
Apalah tanda orang yang cerdik
Orang cerdik panjang akalnya
105. Apalah tanda pisang tanaman
Pisang tanaman banyak akarnya
Apakah tanda orang beriman
Orang beriman banyak sabarnya
039. Apalah tanda batang keladi
Batang keladi di tanah isinya
Apalah tanda orang berbudi
Orang berbudi rendah hatinya
106. Kalau paku batang berduri
Duri mencabik-cabik baju
Elok baju orang tak iri
Irinya menengok baik laku
040. Apalah tanda padi berbuah
Lebatlah tangkai daunnya subur
Apalah tanda negeri bertuah
Rakyatnya damai hidupnya makmur
107. Anak rusa cepat berlari
Diikat kaki terlompat-lompat
Banyak harta dapat dicari
Sahabat sejati payah didapat
041. Anak kuda berlari-lari
Berlarilah dengan tali-talinya
Banyak harta orang tak iri
Iri orang menengok budinya
108. Banyak orang mandi berenang
Tidak peduli kapalnya karam
Banyak orang mencari senang
Tidak peduli halal dan haram
042. Banyak orang mendaki bukit
Bukit didaki bergesa-gesa
Banyak orang mencari duit
Duit dicari badan binasa
109. Banyak orang menjerat rusa
Sudah terlupa meniup api
Banyak orang berbuat dosa
Sudah lupa hidup kan mati
043. Banyak orang mencari katung
Tidak peduli bulannya terang
Banyak orang mencari untung
Tidak peduli merugikan orang
110. Kalau menangguk-nangguk udang
Tangguk dianyam rapat-rapat
Kalau duduk di tempat orang
Duduklah dengan duduk bersifat
044. Berkait-kait akan beluru
Berkelok-kelok lilit rotan
Berpahit-pahit kita dahulu
Barulah elok di hari kemudian
111. Kalau berkayuh menyusur batang
Tandanya sampan akan ke darat
Kalau mengeluh pagi dan petang
Tandanya badan kian melarat
045. Kalau bergalah jangan bergayuh
Kalau berkayuh bertambah basah
Kalau bersusah jangan mengeluh
Kalau mengeluh bertambah susah
112. Sudah banyak orang bergalah
Yang berenang hanya sedikit
Sudah banyak orang yang kalah
Yang menang hanya sedikit
046. Dalam meniup ingatlah api
Dalam makan ingatlah tulang
Dalam hidup ingatlah mati
Dalam berjalan ingatlah pulang
113. Ingat-ingat mencari kerang
Mencari kerang ada tempatnya
Ingat-ingat di negeri orang
Negeri orang ada adatnya
047. Ingat-ingat merendam kain
Kain itu ada kapasnya
Ingat-ingat dalam bermain
Bermain itu ada batasnya
114. Kalau sudah cukup berenang
Cepat-cepatlah naik ke darat
Kalau sudah hidupnya senang
Ingat-ingatlah orang melarat
048. Kalau sudah biasa berenang
Ingat-ingat pada basahnya
Kalau sudah merasa senang
Ingat-ingat ke masa susahnya
115. Kain dicelup berwarna biru
Celup sekali dilipat-lipat
Pakaian hidup aib dan malu
Pakaian mati amal ibadat
049. Banyak orang renang berenang
Sudah terlupa ke jalan darat
Banyak orang bersenang lenang
Sudah terlupa jalan akhirat
116. Sungguh elok berbatang lebat
Redup rindang tiada basahnya
Sungguh elok orang bertobat
Hidup senang hilang dosanya
050. Banyak-banyak membuat jermal
Jermal dibuat di air dangkal
Banyak-banyaklah berbuat amal
Amal dibuat menjadi bekal
117. Batang betik batang bertarah
Batang keladi manisnya ada
Orang cerdik penyambung lidah
Orang berani pelapis dada
051. Sungguh elok berbatang lebar
Tidak nampak basah kuyupnya
Sungguh elok orang penyabar
Tidak nampak susah hidupnya
118. Retak buah sigama-gama
Retak tanduk liku berliku
Minta petuah kepada ulama
Minta petunjuk pada yang tahu
052. Retak urat ada bercanggah
Retak bara ada tengarang
Minta kuat kepada gajah
Minta suara kepada enggang
119. Belum jatuh sudah berdetak
Detak mengirai balik berbalik
Hukum jatuh benar terletak
Gelak berderai timbal balik
053. Kalau elang tari menari
Kalau pipit loncat meloncat
Kalau hilang cari mencari
Kalau sakit obat mengobat
120. Kalau menebang sama mengerat
Kalau membakar sama menyuluh
Kalau menimbang sama berat
Kalau menakar samalah penuh
054. Kalau memukat sama menimba
Kalau melenggang sama pergi
Kalau mendapat sama berlaba
Kalau hilang sama merugi
121. Yang padat bernama besi
Yang berongga tanda beruang
Yang adat sama diisi
Yang lembaga sama dituang
055. Yang perahu beruang timba
Yang sauh tambang terpaut
Yang berbau buang ke rimba
Yang keruh buang ke laut
122. Mana galah digalahkan juga
Kalau layar dilayarkan pula
Mana salah disalahkan juga
Kalau benar dibenarkan pula
056. Kalaulah tahu patah akarnya
Tebanglah pohon sekecil-kecilnya
Kalaulah tahu salah benarnya
Timbanglah hukum seadil-adilnya
123. Patah kecil kita tampunkan
Patah besar kita tumbangkan
Salah kecil kita ampunkan
Salah besar kita timbangkan
057. Galah besar bergalah kecil
Galah kecil kita lapisi
Salah besar kita perkecil
Salah kecil kita habisi
124. Kalau memandang jangan merentus
Kalau melendan jangan melanyah
Kalau mencencang jangan memutus
Kalau makan jangan memunah
058. Memanggang sepat bersela-sela
Menjamur pukat berkering-kering
Tegang adat berjela-jela
Kendur adat berdenting-denting
125. Yang melentur yang berat
Yang bertangkai yang dituai
Yang seukur yang dikerat
Yang sesuai yang akan dipakai
059. Yang berdering yang mematah
Yang berabu yang kan membakar
Yang bertaring yang mengerkah
Yang berkuku yang kan mencakar
126. Alim nampak kepada rupa
Alim dijunjung sampai tua
Yatim anak tiada berbapa
Yatim kampung tiada bertua
060. Kalau berbuah ada ranumnya
Bila cendawan ada kelatnya
Kalau menyanggah ada hukumnya
Bila melawan ada adatnya
127. Jangan menetakkan parang patah
Buat hulunya sebatang ruyung
Jangan menegakkan benang basah
Membuat malu orang sekampung
061. Kalau sudah duduk beramai
Untuk apa duduk seorang
Kalau sudah duduk berdamai
Untuk apa mengajak perang
128. Kalau sudah menebuk gading
Tebuk menjadi ukiran tepat
Kalau sudah duduk berunding
Eloklah cari jalan mufakat
062. Kalau lepat sudah dikukus
Jerang ketupat dalam kuali
Kalau mufakat sudah putus
Pegang erat sampai ke mati
129. Anak itik terlompat-lompat
Anak beruk termangu-mangu
Niat baik kita percepat
Niat yang buruk ditunggu dulu
063. Terbang tempua membumbung tinggi
Anak garuda layang melayang
Orang tua-tua dijunjung tinggi
Anak muda-muda dikasih sayang
130. Anak ular mati terpukul
Anak tapah selam menyelam
Yang benar pastilah timbul
Yang salah akan tenggelam
064. Kalau redup pasanglah kandil
Bila sepi pasanglah pukat
Kalau hidup peganglah wakil
Bila mati peganglah amanat
131. Pisau peraut baru bertuang
Beri bertali dengan rotan saga
Rantau diturut dengan udang
Negeri dihuni dengan lembaga
065. Yang semah ada helatnya
Yang bidan ada bangsanya
Yang rumah ada adatnya
Yang tepian ada bahasanya
132. Limau purut limau manis
Tumbuh sebatang di tepi rawa
Kalau menjemput orang nan jauh
Siapkan nasi dengan hidangya
066. Jangan patahkan atap mengkuang
Atap patah kumbangpun lalu
Jangan patahkan cakap orang
Cakap patah orangnya malu
133. Hari panas jangan ke laut
Kalau ke laut kapal tergalang
Hati panas jangan diturut
Kalau diturut akalpun hilang
067. Banyak orang mandi berenang
Tidak peduli kapalnya karam
Banyak orang mencari untung
Tidak peduli merugikan orang
Pantun Dakwah
001. Kemumu di dalam semak
Jatuh melayang selaranya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya
002. Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam riang-riang
Menangis di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
003. Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam riang-riang
Menangis di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
004. Ambil galah kupaskan jantung
Orang Arab bergoreng kicap
Kepada Allah tempat bergantung
Kepada Nabi tempat mengucap
005. Asam rumbia dibelah-belah
Buah separuh di dalam raga
Dunia ikut firman Allah
Akhirat dapat masuk surga
006. Belah buluh bersegi-segi
Buat mari serampang ikan
Kuasa Allah berbagi-bagi
Lebih laut dan juga daratan
007. Buah ini buah berangan
Masak dibungkus sapu tangan
Dunia ini pinjam-pinjaman
Akhirat kelak kampung halaman
008. Delima batu dipenggal-penggal
Bawa galah ke tanah merah
Lima waktu kalau ditinggal
Ibu bapak pasti marah
009. Banyaklah hari antara hari
Tidak semulia hari Jumat
Banyaklah nabi antara nabi
Tidak semulia Nabi Muhammad
010. Orang Bayang pergi mengaji
Ke Cubadak jalan ke Panti
Meninggalkan sembahyang jadi berani
Seperti badan tak akan mati
011. Pangkal dibelit di pohon jarak
Jarak nan tumbuh tepi serambi
Jangan dibuat yang dilarang syarak
Itulah perbuatan yang dibenci Nabi
012. Jarak nan tumbuh tepi serambi
Pohon kerekot bunganya sama
Itulah perbuatan yang dibenci Nabi
Petuah diikut segala ulama
013. Pohon kerekot bunganya sama
Buahnya boleh dibuat colo
Petuah diikut semua ulama
Jangan dibawa berolok-olok
014. Rusa banyak dalam rimba
Kera pun banyak tengah berhimpun
Dosa banyak dalam dunia
Segeralah kita minta ampun
015. Kera banyak tengah berhimpun
Sandarkan galah pada pohon
Segeralah kita meminta ampun
Kepada Allah tempat bermohon
016. Tuman dipegang jatuh ke laut
Disambar yu jerung tenggiri
Imanpun tetap sehingga maut
Di situ baru tahukan diri
017. Disambar yu jerung tenggiri
Sutan Amat mandi bersimbur
disitulah baru tahukan diri
Malaikat memalu dalam kubur
018. Kait-kait di padang temu
Terap ditimbun di ujung galah
Baik-baik berpegang pada ilmu
Harapkan ampun pada Allah
019. Temu itu banyak warnanya
Ada yang putih ada yang biru
Ilmu itu banyak gunanya
Tiada boleh orang menggaru
020. Pecah cawan di atas peti
Cawan minum Sutan Amat
Tuhan Allah yang mahasuci
Jangan dilupakan setiap saat
Jatuh melayang selaranya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya
002. Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam riang-riang
Menangis di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
003. Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam riang-riang
Menangis di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
004. Ambil galah kupaskan jantung
Orang Arab bergoreng kicap
Kepada Allah tempat bergantung
Kepada Nabi tempat mengucap
005. Asam rumbia dibelah-belah
Buah separuh di dalam raga
Dunia ikut firman Allah
Akhirat dapat masuk surga
006. Belah buluh bersegi-segi
Buat mari serampang ikan
Kuasa Allah berbagi-bagi
Lebih laut dan juga daratan
007. Buah ini buah berangan
Masak dibungkus sapu tangan
Dunia ini pinjam-pinjaman
Akhirat kelak kampung halaman
008. Delima batu dipenggal-penggal
Bawa galah ke tanah merah
Lima waktu kalau ditinggal
Ibu bapak pasti marah
009. Banyaklah hari antara hari
Tidak semulia hari Jumat
Banyaklah nabi antara nabi
Tidak semulia Nabi Muhammad
010. Orang Bayang pergi mengaji
Ke Cubadak jalan ke Panti
Meninggalkan sembahyang jadi berani
Seperti badan tak akan mati
011. Pangkal dibelit di pohon jarak
Jarak nan tumbuh tepi serambi
Jangan dibuat yang dilarang syarak
Itulah perbuatan yang dibenci Nabi
012. Jarak nan tumbuh tepi serambi
Pohon kerekot bunganya sama
Itulah perbuatan yang dibenci Nabi
Petuah diikut segala ulama
013. Pohon kerekot bunganya sama
Buahnya boleh dibuat colo
Petuah diikut semua ulama
Jangan dibawa berolok-olok
014. Rusa banyak dalam rimba
Kera pun banyak tengah berhimpun
Dosa banyak dalam dunia
Segeralah kita minta ampun
015. Kera banyak tengah berhimpun
Sandarkan galah pada pohon
Segeralah kita meminta ampun
Kepada Allah tempat bermohon
016. Tuman dipegang jatuh ke laut
Disambar yu jerung tenggiri
Imanpun tetap sehingga maut
Di situ baru tahukan diri
017. Disambar yu jerung tenggiri
Sutan Amat mandi bersimbur
disitulah baru tahukan diri
Malaikat memalu dalam kubur
018. Kait-kait di padang temu
Terap ditimbun di ujung galah
Baik-baik berpegang pada ilmu
Harapkan ampun pada Allah
019. Temu itu banyak warnanya
Ada yang putih ada yang biru
Ilmu itu banyak gunanya
Tiada boleh orang menggaru
020. Pecah cawan di atas peti
Cawan minum Sutan Amat
Tuhan Allah yang mahasuci
Jangan dilupakan setiap saat
Selasa, 06 Januari 2009
PEMBENIHAN IKAN LELE DUMBO
PEMBENIHAN IKAN LELE DUMBO
I. PENDAHULUAN
Salah satu komoditas perikanan yang cukup populer di masyarakat adalah lele dumbo (Clarias gariepinus). Ikan ini berasal dari Benua Afrika dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Karena memiliki berbagai kelebihan, menyebabkan, lele dumbo termasuk ikan yang paling mudah diterima masyarakat. Kelebihan tersebut diantaranya adalah pertumbuhannya cepat, memiliki kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang tinggi, rasanya enak dan kandungan gizinya cukup tinggi. Maka tak heran, apabila minat masyarakat untuk membudidayakan lele dumbo sangat besar.
II. Sistematika
Philum Chordata, Kelas Pisces, Anak Kelas Telestei, Bangsa Ostariophysi, Anak Bangsa Siluridae, Suku Claridae, Marga Clarias dan Jenis Clarias gariepinus.
Bentuk tubuh memanjang, agak bulat, kepala gepeng, tidak bersisik, mempunyai 4 pasang kumis, mulut besar, warna kelabu sampai hitam. Lele dumbo banyak ditemukan di rawa-rawa dan sungai di Afrika, terutama di dataran rendah sampai sedikit payau. Ikan ini mempunyai alat pernapasan tambahan yang disebut abrorescent, sehingga mampu hidup dalam air yang oksigennya rendah.
Lele dumbo termasuk ikan karnivora, namun pada usia benih lebih bersifat omnivora. Induk lele dumbo sudah dapat dipijahkan setelah berumur 2 tahun dan dapat memijah sepanjang tahun.
- Tanda induk betina: tubuh lebih pendek, mempu- nyai dua buah lubang kelamin yang bentuknya bulat.
- Tanda induk jantan: tubuh lebih panjang, mempunyai satu buah lubang kelamin yang bentuknya memanjang.
III. PEMBENIHAN
Saat ini lele dumbo sudah dapat dipijahkan secara alami. Namun demikian banyak orang yang lebih suka memijahkan dengan cara buatan ( disuntik ) karena penjadwalan produksi dapat dilakukan lebih tepat.
A. Pematangan Gonad
Pematangan gonad dilakukan di kolam seluas 50 - 200 m2 dengan kepadatan 2 - 4 kg/m2. Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pelet sebanyak 3 persen/hari dari berat tubuhnya.
B. Seleksi Induk
- Seleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan induk yang akan dipijahkan.
- Induk betina ditandai dengan perutnya yang buncit dan kadang-kadang apabila dipijit kearah lubang kelamin, keluar telur yang warnanya kuning tua.
- Induk jantan ditandai dengan warna tubuh dan alat kelaminnya agak kemerahan
C. Pemberokan
- Pemberokan dilakukan dalam bak seluas 4 - 6 m2 dan tinggi 1 m, selama 1 - 2 hari.
- Pemberokan bertujuan untuk membuang kotoran dan mengurangi kandungan lemak dalam gonad.
- Setelah diberok, kematangan induk diperiksa kembali.
D. Penyuntikan
- Induk betina disuntik dengan larutan hipofisa ikan mas sebanyak 2 dosis (1kg induk membutuhkan 2 kg ikan mas) dan jantan 1/2 dosis atau ovaprim 0,3 ml/kg.
- Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung.
E. Pemijahan / Pengurutan
- Apabila akan dipijahkan secara alami, induk jantan dan betina yang sudah disuntik disatukan dalam bak yang telah diberi ijuk dan biarkan memijah sendiri.
- Apabila akan diurut, maka pengurutan dilakukan 8 - 10 jam setelah penyuntikan.
- Langkah pertama adalah menyiapkan sperma: ambil kantong sperma dari induk jantan dengan membedah bagian perutnya, gunting kantong sperma dan keluarkan. Cairan sperma ditampung dalam gelas yang sudah diisi NaCl sebanyak 1/2 bagiannya. Aduk hingga rata. Bila terlalu pekat, tambahkan NaCl sampai larutan berwarna putih susu agak encer.
- Ambil induk betina yang akan dikeluarkan telurnya. Pijit bagian perut ke arah lubang kelamin sampai telurnya keluar. Telur ditampung dalam mangkuk plastik yang bersih dan kering. Masukan larutan sperma sedikit demi sedikit dan aduk sampai merata. Tambahkan larutan NaCl agar sperma lebih merata. Agar terjadi pembuahan, tambahkan air bersih dan aduklah agar merata sehingga pembenihan dapat berlangsung dengan baik, untuk mencuci telur dari darah dan kotoran lainnya, tambahkan lagi air bersih kemudian dibuang. Lakukan 2 - 3 kali agar bersih.
- Telur yang sudah bersih dimasukkan kedalam hapa penetasan yang sudah dipasang di bak. Bak dan hapa tersebut berukuran 2 m x 1 m x 0,4 m dan sudah diisi air 30 cm. Cara memasukan, telur diambil dengan bulu ayam, lalu sebarkan ke seluruh permukaan hapa sampai merata. Dalam 2-3 hari telur akan menetas dan larvanya dibiar- kan selama 4-5 hari atau sampai berwarna hitam.
E. Pendederan
~ Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva, yang meliputi : pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir
~ Pengapuran dilakukan dengan melarutkan kapur tohor kedalam tong, kemudian disebarkan ke seluruh pematang dan dasar kolam. Dosisnya 250 - 500 g/m2.
~ Pemupukan menggunakan kotoran ayam dengan dosis 500 - 1.000 gr/m2.. Kolam di isi air setinggi 40 cm dan setelah 3 hari, disemprot dengan organophosphat 4 ppm dan dibiarkan selama 4 hari.
~ Benih ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 100 - 200 ekor/m2.
~ Pendederan dilakukan selama 21 hari. Pakan tambahan diberikan setiap hari berupa tepung pelet sebanyak 0,75 gr/1000 ekor.
IV. PENYAKIT
Penyakit yang sering menyerang lele dumbo adalah Ichthyopthirius multifiliis atau lebih dikenal dengan white spot (bintik putih). Pencegahan, dapat dilakukan dengan persiapan kolam yang baik, terutama pengeringan dan pengapuran. Pengobatan dilakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak 200 gr/m3 setiap 10 hari selama pemeliharaan atau merendam ikan yang sakit ke dalam larutan Oxytetracyclin 2 mg/l.
Cara dan persiapan pemijahan
Salam kenal juga untuk mas Sukari,
Untuk proses pembenihan cara suntik yg paling umum pake Ovaprim sebagai pengganti hipofisa.Peralatannya cukup banyak saya gak hapal semua diantaranya :Ovaprim,jarumsuntik,aquabidest,talenan,bulu ayam,ember,kain lap,waskom.
untuk ikan donor sperma saya belum pernah coba selain induk lele jantan tapi saya pernah dengar induk patin jantan bisa dipakai dan hasilnya lele blasteran patin yg sipat kanibalnya sangat berkurang.Untuk pengganti ovaprim bisa dipakai hipofisa ikan mas.
Perbedaan lele lokal dg lele dumbo biasanya saya bedakan dari ukuran dan warna kulit,bentuk kepala.Kulit lele lokal biasanya ada titik -tikik putih kecil-kecil sedang pada dumbo bintiknya besar-besar.Kepala lelel lokal lebih kecil dan pendek dan ukuran lele lokal lebih kecil dibanding lele dumbo.
I. PENDAHULUAN
Salah satu komoditas perikanan yang cukup populer di masyarakat adalah lele dumbo (Clarias gariepinus). Ikan ini berasal dari Benua Afrika dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Karena memiliki berbagai kelebihan, menyebabkan, lele dumbo termasuk ikan yang paling mudah diterima masyarakat. Kelebihan tersebut diantaranya adalah pertumbuhannya cepat, memiliki kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang tinggi, rasanya enak dan kandungan gizinya cukup tinggi. Maka tak heran, apabila minat masyarakat untuk membudidayakan lele dumbo sangat besar.
II. Sistematika
Philum Chordata, Kelas Pisces, Anak Kelas Telestei, Bangsa Ostariophysi, Anak Bangsa Siluridae, Suku Claridae, Marga Clarias dan Jenis Clarias gariepinus.
Bentuk tubuh memanjang, agak bulat, kepala gepeng, tidak bersisik, mempunyai 4 pasang kumis, mulut besar, warna kelabu sampai hitam. Lele dumbo banyak ditemukan di rawa-rawa dan sungai di Afrika, terutama di dataran rendah sampai sedikit payau. Ikan ini mempunyai alat pernapasan tambahan yang disebut abrorescent, sehingga mampu hidup dalam air yang oksigennya rendah.
Lele dumbo termasuk ikan karnivora, namun pada usia benih lebih bersifat omnivora. Induk lele dumbo sudah dapat dipijahkan setelah berumur 2 tahun dan dapat memijah sepanjang tahun.
- Tanda induk betina: tubuh lebih pendek, mempu- nyai dua buah lubang kelamin yang bentuknya bulat.
- Tanda induk jantan: tubuh lebih panjang, mempunyai satu buah lubang kelamin yang bentuknya memanjang.
III. PEMBENIHAN
Saat ini lele dumbo sudah dapat dipijahkan secara alami. Namun demikian banyak orang yang lebih suka memijahkan dengan cara buatan ( disuntik ) karena penjadwalan produksi dapat dilakukan lebih tepat.
A. Pematangan Gonad
Pematangan gonad dilakukan di kolam seluas 50 - 200 m2 dengan kepadatan 2 - 4 kg/m2. Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pelet sebanyak 3 persen/hari dari berat tubuhnya.
B. Seleksi Induk
- Seleksi bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan induk yang akan dipijahkan.
- Induk betina ditandai dengan perutnya yang buncit dan kadang-kadang apabila dipijit kearah lubang kelamin, keluar telur yang warnanya kuning tua.
- Induk jantan ditandai dengan warna tubuh dan alat kelaminnya agak kemerahan
C. Pemberokan
- Pemberokan dilakukan dalam bak seluas 4 - 6 m2 dan tinggi 1 m, selama 1 - 2 hari.
- Pemberokan bertujuan untuk membuang kotoran dan mengurangi kandungan lemak dalam gonad.
- Setelah diberok, kematangan induk diperiksa kembali.
D. Penyuntikan
- Induk betina disuntik dengan larutan hipofisa ikan mas sebanyak 2 dosis (1kg induk membutuhkan 2 kg ikan mas) dan jantan 1/2 dosis atau ovaprim 0,3 ml/kg.
- Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung.
E. Pemijahan / Pengurutan
- Apabila akan dipijahkan secara alami, induk jantan dan betina yang sudah disuntik disatukan dalam bak yang telah diberi ijuk dan biarkan memijah sendiri.
- Apabila akan diurut, maka pengurutan dilakukan 8 - 10 jam setelah penyuntikan.
- Langkah pertama adalah menyiapkan sperma: ambil kantong sperma dari induk jantan dengan membedah bagian perutnya, gunting kantong sperma dan keluarkan. Cairan sperma ditampung dalam gelas yang sudah diisi NaCl sebanyak 1/2 bagiannya. Aduk hingga rata. Bila terlalu pekat, tambahkan NaCl sampai larutan berwarna putih susu agak encer.
- Ambil induk betina yang akan dikeluarkan telurnya. Pijit bagian perut ke arah lubang kelamin sampai telurnya keluar. Telur ditampung dalam mangkuk plastik yang bersih dan kering. Masukan larutan sperma sedikit demi sedikit dan aduk sampai merata. Tambahkan larutan NaCl agar sperma lebih merata. Agar terjadi pembuahan, tambahkan air bersih dan aduklah agar merata sehingga pembenihan dapat berlangsung dengan baik, untuk mencuci telur dari darah dan kotoran lainnya, tambahkan lagi air bersih kemudian dibuang. Lakukan 2 - 3 kali agar bersih.
- Telur yang sudah bersih dimasukkan kedalam hapa penetasan yang sudah dipasang di bak. Bak dan hapa tersebut berukuran 2 m x 1 m x 0,4 m dan sudah diisi air 30 cm. Cara memasukan, telur diambil dengan bulu ayam, lalu sebarkan ke seluruh permukaan hapa sampai merata. Dalam 2-3 hari telur akan menetas dan larvanya dibiar- kan selama 4-5 hari atau sampai berwarna hitam.
E. Pendederan
~ Persiapan kolam pendederan dilakukan seminggu sebelum penebaran larva, yang meliputi : pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir
~ Pengapuran dilakukan dengan melarutkan kapur tohor kedalam tong, kemudian disebarkan ke seluruh pematang dan dasar kolam. Dosisnya 250 - 500 g/m2.
~ Pemupukan menggunakan kotoran ayam dengan dosis 500 - 1.000 gr/m2.. Kolam di isi air setinggi 40 cm dan setelah 3 hari, disemprot dengan organophosphat 4 ppm dan dibiarkan selama 4 hari.
~ Benih ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 100 - 200 ekor/m2.
~ Pendederan dilakukan selama 21 hari. Pakan tambahan diberikan setiap hari berupa tepung pelet sebanyak 0,75 gr/1000 ekor.
IV. PENYAKIT
Penyakit yang sering menyerang lele dumbo adalah Ichthyopthirius multifiliis atau lebih dikenal dengan white spot (bintik putih). Pencegahan, dapat dilakukan dengan persiapan kolam yang baik, terutama pengeringan dan pengapuran. Pengobatan dilakukan dengan menebarkan garam dapur sebanyak 200 gr/m3 setiap 10 hari selama pemeliharaan atau merendam ikan yang sakit ke dalam larutan Oxytetracyclin 2 mg/l.
Cara dan persiapan pemijahan
Salam kenal juga untuk mas Sukari,
Untuk proses pembenihan cara suntik yg paling umum pake Ovaprim sebagai pengganti hipofisa.Peralatannya cukup banyak saya gak hapal semua diantaranya :Ovaprim,jarumsuntik,aquabidest,talenan,bulu ayam,ember,kain lap,waskom.
untuk ikan donor sperma saya belum pernah coba selain induk lele jantan tapi saya pernah dengar induk patin jantan bisa dipakai dan hasilnya lele blasteran patin yg sipat kanibalnya sangat berkurang.Untuk pengganti ovaprim bisa dipakai hipofisa ikan mas.
Perbedaan lele lokal dg lele dumbo biasanya saya bedakan dari ukuran dan warna kulit,bentuk kepala.Kulit lele lokal biasanya ada titik -tikik putih kecil-kecil sedang pada dumbo bintiknya besar-besar.Kepala lelel lokal lebih kecil dan pendek dan ukuran lele lokal lebih kecil dibanding lele dumbo.
Perhitungan ternak lele Bag 2
Bagian 2
(Clarias sp.)
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.
Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).
Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele Sangkuriang.
Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.
Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama Lele Sangkuriang. Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).
Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m - 800 m dpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi. Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat.
Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.
Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yan baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut:
Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.
pH air yang ideal berkisar antara 6-9.
Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.
Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.
Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik). Parit dibuat selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.
Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran. Pada bagian kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki. Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan bantuan pipa berbentuk L mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam.
Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.
Pelaksanaan Budidaya
Sebelum benih ikan lele ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi:
a. Persiapan kolam tanah (tradisional)
Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya. Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran. Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor).
Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).
Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.
Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2.
Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring
Kemudian dilakukan pengisian air kolam.
Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.
b. Persiapan kolam tembok
Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.
c. Penebaran Benih
Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.
Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.
d. Pemberian Pakan
Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.
e. Pemanenan
Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 - 250 gram per ekor dengan panjang 15 - 20 cm. Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga mudah ditangkap dengan menggunakan waring atau lambit. Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan mudah ikan dapat ditangkap atau diangkat. Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum ikan-ikan tersebut diangkut untuk dipasarkan.
Pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.
Proses Produksi pada kegiatan pembesaran disajikan Tabel 1.
Tabel 1
Proses pembesaran lele Sangkuriang di bak tembok.
Kriteria Satuan Pembesaran
Ukuran Tanaman
- Umur hari 40
- panjang cm 4 - 8
- bobot gram 4- 6
Ukuran Panen
- Umur hari 130
- panjang cm 15 - 20
- bobot gram 125 - 200
Sintasan % 80-90
Padat Tebar Ekor/m2 50-75
Pakan
- Tingkat Pemberian % bobot 3
- Frekuensi Pemberian kali/hari 3
Tingkat Konversi Pakan 0,8 - 1,2
Kegiatan budidaya lele Sangkuriang di tingkat pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada kegiatan pembesaran, penyakit banyak ditimbulkan akibat buruknya penanganan kondisi lingkungan. Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain ular dan belut. Sedangkan organisme pathogen yang sering menyerang adalah Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp. dan Dactylogyrus sp.
Penanggulangan hama insekta dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut dapat dilakukan dengan pembersihan pematang kolam dan pemasangan plastik di sekeliling kolam.
Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan.
Pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam dengan baik. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan kolam tanah, persiapan kolam meliputi pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan bak tembok atau bak plastik, persiapan kolam meliputi pengeringan, disenfeksi (bila diperlukan), pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam dapat pula dilakukan dengan penambahan bahan probiotik.
Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit, maka hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pindahkan segera ikan yang memperlihatkan gejala sakit dan diobati secara terpisah. Ikan yang tampak telah parah sebaiknya dimusnahkan.
Jangan membuang air bekas ikan sakit ke saluran air.
Kolam yang telah terjangkit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 1 kg/5 m2. Kapur (CaO) ditebarkan merata didasar kolam, kolam dibiarkan sampai tanah kolam retak-retak.
Kurangi kepadatan ikan di kolam yang terserang penyakit.
Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit. Sebelum dipakai lagi sebaiknya dicelup dulu dalam larutan Kalium Permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).
Setelah memegang ikan sakit cucilah tangan kita dengan larutan PK
Bersihkan selalu dasar kolam dari lumpur dan sisa bahan organik
Usahakan agar kolam selalu mendapatkan air segar atau air baru.
Tingkatkan gizi makanan ikan dengan menambah vitamin untuk menambah daya tahan ikan.
ANALISA USAHA
Pembesaran lele Sangkuriang di bak plastik
1. Investasi
a. Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,- = Rp 1.000.000,-
b. Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,- = Rp 1.500.000,-
c. Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,- = Rp 750.000,-
Rp 3.250.000,-
2. Biaya Tetap
a. Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn = Rp 1.000.000,-
b. Penyusutan bak kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn = Rp 750.000,-
c. Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn = Rp 150.000,-
Rp 1.900.000,-
3. Biaya Variabel
a. Pakan 4800 kg @ Rp 3700 = Rp 17.760.000,-
b. Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,- = Rp 2.021.052,63
c. Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,- = Rp 300.000,-
d. Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,- = Rp 200.000,-
e. Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,- = Rp 3.000.000,-
f. Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,- = Rp 1.200.000,-
Rp 24.281.052,63
4. Total Biaya
Biaya Tetap + Biaya Variabel
= Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63
= Rp 26.181.052,63
5. Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -Rp 28.800.000,
6. Pendapatan
Produksi - (Biaya tetap + Biaya Variabel)
= Rp 28.800.000,- - ( Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63)
= Rp 2.418.947,37
7. Break Event Point (BEP)
Volume produksi = 4.396,84 kg
Harga produksi = Rp 5.496,05
Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya
(Clarias sp.)
Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air Tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.
Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.
Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).
Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele Sangkuriang.
Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing, insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya. Untuk usaha budidaya, penggunaan pakan komersil (pellet) sangat dianjurkan karena berpengaruh besar terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas.
Tujuan pembuatan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan cara dan teknik pemeliharaan ikan lele dumbo strain Sangkuriang yang dilakukan dalam rangka peningkatan produksi Perikanan untuk meningkatkan ketersediaan protein hewani dan tingkat konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia.
Berdasarkan keunggulan lele dumbo hasil perbaikan mutu dan sediaan induk yang ada di BBAT Sukabumi, maka lele dumbo tersebut layak untuk dijadikan induk dasar yaitu induk yang dilepas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan telah dilakukan diseminasi kepada instansi/pembudidaya yang memerlukan. Induk lele dumbo hasil perbaikan ini, diberi nama Lele Sangkuriang. Induk lele Sangkuriang merupakan hasil perbaikan genetik melalui cara silang balik antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6). Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia tahun 1985. Sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi. Induk dasar yang didiseminasikan dihasilkan dari silang balik tahap kedua antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan hasil silang balik tahap pertama (F2 6).
Budidaya lele Sangkuriang dapat dilakukan di areal dengan ketinggian 1 m - 800 m dpi. Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi. Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial sekitarnya artinya kawasan budidaya yang dikembangkan sejalan dengan kebijakan yang dilakukan Pemda setempat.
Budidaya lele, baik kegiatan pembenihan maupun pembesaran dapat dilakukan di kolam tanah, bak tembok atau bak plastik. Budidaya di bak tembok dan bak plastik dapat memanfaatkan lahan pekarangan ataupun lahan marjinal lainnya.
Sumber air dapat menggunakan aliran irigasi, air sumu (air permukaan atau sumur dalam), ataupun air hujan yan sudah dikondisikan terlebih dulu. Parameter kualitas air yan baik untuk pemeliharaan ikan lele sangkuriang adalah sebagai berikut:
Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air akan mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan napsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air.
pH air yang ideal berkisar antara 6-9.
Oksigen terlarut di dalam air harus > 1 mg/l.
Budidaya ikan lele Sangkuriang dapat dilakukan dalam bak plastik, bak tembok atau kolam tanah. Dalam budidaya ikan lele di kolam yang perlu diperhatikan adalah pembuatan kolam, pembuatan pintu pemasukan dan pengeluaran air.
Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran 100-500 m2. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit (kamalir) yang memanjang dari pemasukan air ke pengeluaran air (monik). Parit dibuat selebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm.
Sebaiknya pintu pemasukan dan pengeluaran air berukuran antara 15-20 cm. Pintu pengeluaran dapat berupa monik atau siphon. Monik terbuat dari semen atau tembok yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian kotak dan pipa pengeluaran. Pada bagian kotak dipasang papan penyekat terdiri dari dua lapis yang diantaranya diisi dengan tanah dan satu lapis saringan. Tinggi papan disesuaikan dengan tinggi air yang dikehendaki. Sedangkan pengeluaran air yang berupa siphon lebih sederhana, yaitu hanya terdiri dari pipa paralon yang terpasang didasar kolam dibawah pematang dengan bantuan pipa berbentuk L mencuat ke atas sesuai dengan ketinggian air kolam.
Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.
Pelaksanaan Budidaya
Sebelum benih ikan lele ditebarkan di kolam pembesaran, yang perlu diperhatikan adalah tentang kesiapan kolam meliputi:
a. Persiapan kolam tanah (tradisional)
Pengolahan dasar kolam yang terdiri dari pencangkulan atau pembajakan tanah dasar kolam dan meratakannya. Dinding kolam diperkeras dengan memukul-mukulnya dengan menggunakan balok kayu agar keras dan padat supaya tidak terjadi kebocoran. Pemopokan pematang untuk kolam tanah (menutupi bagian-bagian kolam yang bocor).
Untuk tempat berlindung ikan (benih ikan lele) sekaligus mempermudah pemanenan maka dibuat parit/kamalir dan kubangan (bak untuk pemanenan).
Memberikan kapur ke dalam kolam yang bertujuan untuk memberantas hama, penyakit dan memperbaiki kualitas tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 20-200 gram/m2, tergantung pada keasaman kolam. Untuk kolam dengan pH rendah dapat diberikan kapur lebih banyak, juga sebaliknya apabila tanah sudah cukup baik, pemberian kapur dapat dilakukan sekedar untuk memberantas hama penyakit yang kemungkinan terdapat di kolam.
Pemupukan dengan kotoran ternak ayam, berkisar antara 500-700 gram/m2; urea 15 gram/m2; SP3 10 gram/m2; NH4N03 15 gram/m2.
Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang penyaring
Kemudian dilakukan pengisian air kolam.
Kolam dibiarkan selama ± 7 (tujuh) hari, guna memberi kesempatan tumbuhnya makanan alami.
b. Persiapan kolam tembok
Persiapan kolam tembok hampir sama dengan kolam tanah. Bedanya, pada kolam tembok tidak dilakukan pengolahan dasar kolam, perbaikan parit dan bak untuk panen, karena parit dan bak untuk panen biasanya sudah dibuat Permanen.
c. Penebaran Benih
Sebelum benih ditebarkan sebaiknya benih disuci hamakan dulu dengan merendamnya didalam larutan KM5N04 (Kalium permanganat) atau PK dengan dosis 35 gram/m2 selama 24 jam atau formalin dengan dosis 25 mg/l selama 5-10 menit.
Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada saat udara tidak panas. Sebelum ditebarkan ke kolam, benih diaklimatisasi dulu (perlakuan penyesuaian suhu) dengan cara memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkut benih. Benih yang sudah teraklimatisasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan yang baru yaitu kolam. Hal ini berarti bahwa perlakuan tersebut dilaksanakan diatas permukaan air kolam dimana wadah (kantong) benih mengapung diatas air. Jumlah benih yang ditebar 35-50 ekor/m2 yang berukuran 5-8 cm.
d. Pemberian Pakan
Selain makanan alami, untuk mempercepat pertumbuhan ikan lele perlu pemberian makanan tambahan berupa pellet. Jumlah makanan yang diberikan sebanyak 2-5% perhari dari berat total ikan yang ditebarkan di kolam. Pemberian pakan frekuensinya 3-4 kali setiap hari. Sedangkan komposisi makanan buatan dapat dibuat dari campuran dedak halus dengan ikan rucah dengan perbandingan 1:9 atau campuran dedak halus, bekatul, jagung, cincangan bekicot dengan perbandingan 2:1:1:1 campuran tersebut dapat dibuat bentuk pellet.
e. Pemanenan
Ikan lele Sangkuriang akan mencapai ukuran konsumsi setelah dibesarkan selama 130 hari, dengan bobot antara 200 - 250 gram per ekor dengan panjang 15 - 20 cm. Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air kolam. Ikan lele akan berkumpul di kamalir dan kubangan, sehingga mudah ditangkap dengan menggunakan waring atau lambit. Cara lain penangkapan yaitu dengan menggunakan pipa ruas bambu atau pipa paralon/bambu diletakkan didasar kolam, pada waktu air kolam disurutkan, ikan lele akan masuk kedalam ruas bambu/paralon, maka dengan mudah ikan dapat ditangkap atau diangkat. Ikan lele hasil tangkapan dikumpulkan pada wadah berupa ayakan/happa yang dipasang di kolam yang airnya terus mengalir untuk diistirahatkan sebelum ikan-ikan tersebut diangkut untuk dipasarkan.
Pengangkutan ikan lele dapat dilakukan dengan menggunakan karamba, pikulan ikan atau jerigen plastik yang diperluas lubang permukaannya dan dengan jumlah air yang sedikit.
Proses Produksi pada kegiatan pembesaran disajikan Tabel 1.
Tabel 1
Proses pembesaran lele Sangkuriang di bak tembok.
Kriteria Satuan Pembesaran
Ukuran Tanaman
- Umur hari 40
- panjang cm 4 - 8
- bobot gram 4- 6
Ukuran Panen
- Umur hari 130
- panjang cm 15 - 20
- bobot gram 125 - 200
Sintasan % 80-90
Padat Tebar Ekor/m2 50-75
Pakan
- Tingkat Pemberian % bobot 3
- Frekuensi Pemberian kali/hari 3
Tingkat Konversi Pakan 0,8 - 1,2
Kegiatan budidaya lele Sangkuriang di tingkat pembudidaya sering dihadapkan pada permasalahan timbulnya penyakit atau kematian ikan. Pada kegiatan pembesaran, penyakit banyak ditimbulkan akibat buruknya penanganan kondisi lingkungan. Organisme predator yang biasanya menyerang antara lain ular dan belut. Sedangkan organisme pathogen yang sering menyerang adalah Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp. dan Dactylogyrus sp.
Penanggulangan hama insekta dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air sebelum benih ditanam. Sedangkan penanggulangan belut dapat dilakukan dengan pembersihan pematang kolam dan pemasangan plastik di sekeliling kolam.
Penanggulangan organisme pathogen dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budidaya yang baik dan pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan.
Pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam dengan baik. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan kolam tanah, persiapan kolam meliputi pengeringan, pembalikan tanah, perapihan pematang, pengapuran, pemupukan, pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Pada kegiatan budidaya dengan menggunakan bak tembok atau bak plastik, persiapan kolam meliputi pengeringan, disenfeksi (bila diperlukan), pengairan dan pengkondisian tumbuhnya plankton sebagai sumber pakan. Perbaikan kondisi air kolam dapat pula dilakukan dengan penambahan bahan probiotik.
Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit, maka hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pindahkan segera ikan yang memperlihatkan gejala sakit dan diobati secara terpisah. Ikan yang tampak telah parah sebaiknya dimusnahkan.
Jangan membuang air bekas ikan sakit ke saluran air.
Kolam yang telah terjangkit harus segera dikeringkan dan dilakukan pengapuran dengan dosis 1 kg/5 m2. Kapur (CaO) ditebarkan merata didasar kolam, kolam dibiarkan sampai tanah kolam retak-retak.
Kurangi kepadatan ikan di kolam yang terserang penyakit.
Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit. Sebelum dipakai lagi sebaiknya dicelup dulu dalam larutan Kalium Permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).
Setelah memegang ikan sakit cucilah tangan kita dengan larutan PK
Bersihkan selalu dasar kolam dari lumpur dan sisa bahan organik
Usahakan agar kolam selalu mendapatkan air segar atau air baru.
Tingkatkan gizi makanan ikan dengan menambah vitamin untuk menambah daya tahan ikan.
ANALISA USAHA
Pembesaran lele Sangkuriang di bak plastik
1. Investasi
a. Sewa lahan 1 tahun @ Rp 1.000.000,- = Rp 1.000.000,-
b. Bak kayu lapis plastik 3 unit @ Rp 500.000,- = Rp 1.500.000,-
c. Drum plastik 5 buah @ Rp 150.000,- = Rp 750.000,-
Rp 3.250.000,-
2. Biaya Tetap
a. Penyusutan lahan Rp 1.000.000,-/1 thn = Rp 1.000.000,-
b. Penyusutan bak kayu lapis plastik Rp 1.500.000,-/2 thn = Rp 750.000,-
c. Penyusutan drum plastik Rp 750.000,-/5 thn = Rp 150.000,-
Rp 1.900.000,-
3. Biaya Variabel
a. Pakan 4800 kg @ Rp 3700 = Rp 17.760.000,-
b. Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 25.263 ekor @ Rp 80,- = Rp 2.021.052,63
c. Obat-obatan 6 unit @ Rp 50.000,- = Rp 300.000,-
d. Alat perikanan 2 paket @ Rp 100.000,- = Rp 200.000,-
e. Tenaga kerja tetap 12 OB @ Rp 250.000,- = Rp 3.000.000,-
f. Lain-lain 12 bin @ Rp 100.000,- = Rp 1.200.000,-
Rp 24.281.052,63
4. Total Biaya
Biaya Tetap + Biaya Variabel
= Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63
= Rp 26.181.052,63
5. Produksi lele konsumsi 4800 kg x Rp 6000/kg -Rp 28.800.000,
6. Pendapatan
Produksi - (Biaya tetap + Biaya Variabel)
= Rp 28.800.000,- - ( Rp 1.900.000,- + Rp 24.281.052,63)
= Rp 2.418.947,37
7. Break Event Point (BEP)
Volume produksi = 4.396,84 kg
Harga produksi = Rp 5.496,05
Sumber :Buku Budidaya Lele Sangkuriang, Dit. Pembudidayaan, Ditjen Perikanan Budidaya
Budidaya Lele
BUDIDAYA LELE
• Jika kita ingin memulai ternak lele dgn tebar bibit 10.000 ekor ukuran 10-12 cm harga di pasaran Rp.250-300/ekor setidaknya diperlukan lahan 100 m2, jumlah pakan pelet 1 ton jika konversi pakan menjadi daging 90 % diestimasikan kita mendpt hasil 900 kg, masa pemeliharaan 60-80 hari.Sebaiknya pada saat 30-40 hari stlh tebar benih dilakukan sortir, krn mulai banyak bibit yg bertubuh bongsor yg sering meng-kanibal ikan yg lain.
• Tebar lele, bisa diawali dgn tebar ukuran 2-3 cm dgn kapadatan 100-150 ekor/m2, pilih lokasi dgn suhu > 26 C. Jadikan warna air menjadi hijau daun utk suplai O2 lbh baik, dgn cara pemupukan & aplikasi probiotik. Umur 90 hari akan di dpt 140 gr ( 7ekor/Kg). dgn kepadatan itu kolam dari terpal atau beton.
Sebenarnya dgn teknologi probiotik tebar lele sudah mampu sampai 400 - 500 ekor/m3. tetapi diperlukan kepiawaian dlm manajemen pengelolaan kualitas air.
• bentuk fisik kolam tdk terlalu utama, baik itu kolam tembok ataupun tanah. yang diutamakan dlm ternak lele adalah kualitas benih, air dan pakan.Benih sebaiknya beli dari pembenih lele langsung dan mulai dari benih yg agak besar contohnya ukuran 10-12 cm dgn kepadatan 100-150 ekor/m2, air bebas pencemaran bisa berasal dari air sungai, sumur, PAM yg sudah diendapkan. kolam sebaiknya diberi pupuk kandang,urea,tsp dan didiamkan minimal 1 minggu agar terbentuk pakan alami berupa plankton, kolam harus dlm kondisi air tdk jalan krn lele rentan terhadap perubahan air yg terus menerus dan lele akan selalu meloncat kearah sumber air mengalir. kedalaman kolam sebaiknya 120 cm dgn ketinggian air 80 cm.pakan utama sebaiknya menggunakan pakan pabrik dgn kandungan protein >32% dan dpt diberi pakan tambahan berupa limbah peternakan ayam spt bangkai ayam,usus,telur yg gagal tetas dng terlebih dahulu dibakar/direbus.
• Petani lele di rangkasbitung (Banten), ukuran kolam 10×10M2 ditanami benih 10.000 ekor, diberi pakan 4 kali sehari dan 40 hari kemudian panen sekitar 1,2 ton. Kedalaman air sekitar 80 cm, kolam tidak dibeton tapi cukup tanah alami. 2 minggu setelah tabur benih, ikan dipisah-pisahkan yang ukuran besar dan yang kecil. Oya jenis lele silangan antara patin dan dumbo, saya lihat warna ikan agak putih tidak seperti lele biasa dan tidak matil, juga tidak meng-kanibal yang lainnya.
Harga benih sekitar Rp. 250/ekor, hasil diskusi dengan peternak nih, total biaya sekitar 7,5 juta (Bibit+Pakan), 40 hari tanam menghasilkan sekitar 10 Juta.
• Tips membuat pakan tambahan untuk lele, peternak lele bisa mencobanya, dgn bahan :
1. Ampas tahu
2. Katul (dedek halus) dari padi
3. Ikan Asin BS(dihaluskan)lebih bagus di rebus
dgn perbandingan 10:5:1 jd setiap 10 kg ampas tahu,+5kg katul,+ 1kg ikan asin bs aduk jd satu, berikan sesuai kebutuhan.
• Modal awal, kita coba buat 1 kolam ukuran kecil 2m x 3m, gali tanah sedalam 30an cm, tanah galian urug-kan ke sekitar pinggir calon kolam. Selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah membeli terpal plastik yang banyak dijual di toko, seharga 50 ribuan, ataupun yang lebih mahal juga bisa, tapi ini kualitasnya sudah cukup bagus. Pasang terpal plastik ke lubang kolam yang telah digali, kedalaman tanah 30 cm, tinggi permukaan tanah (dengan tanah urug sebelumnya) naik kan jadi 20-30 cm lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Jadilah kolam kita yang berbiaya murah. Isilah dengan air jernih, biarkan selama 2-3 malam (jangan langsung ditaburi benih). Beri tanam-tanaman air juga bagus, semisal teratai, ganggang air, kangkung, dsb.
• Berikutnya, tinggal beli benih ikan lele, dengan ukuran sebesar ibu jari orang dewasa, harganya sekitar 100-150 rupiah per ekor. Coba isi kolam tadi dengan 300-400 ekor benih ikan lele. Beli pakan ikan (pelet) lembut, sekitar 5000 rupiah per kg. Sebulan mungkin menghabiskan sekitar 3 kg, Sebagian di atas kolam dibuat atap pelindung, juga bagus. Sebagian terkena cahaya langsung matahari. Kalau ada sisa nasi makan malam/siang, masukkan saja ke kolam, biar nambah-nambah zat makanan. Air kondisikan alami seperti di rawa/sungai, perbanyak tanaman air. Kalau di awal-awal menabur benih, sebagian ikan mati, jangan panik, ambil saja, buang. 3-4 hari berikutnya ikan akan bertahan hidup normal. Nah, tinggal menunggu sekitar 3 bulan, ikan sudah cukp besar untuk bisa dipanen, dijual dengan harga sekitar 1000 rupiah per ekor. Bikin saja tulisan di depan rumah “JUAL IKAN LELE KONSUMSI, SEGAR, GURIH” Kalau tanah cukup luas, berarti bisa bikin 2-3 kolam lagi yang serupa. Pakai terpal plastik juga (hemat biaya pasir dan semen, serta ongkos tukang .
Ditulis dalam budidaya ikan
• Jika kita ingin memulai ternak lele dgn tebar bibit 10.000 ekor ukuran 10-12 cm harga di pasaran Rp.250-300/ekor setidaknya diperlukan lahan 100 m2, jumlah pakan pelet 1 ton jika konversi pakan menjadi daging 90 % diestimasikan kita mendpt hasil 900 kg, masa pemeliharaan 60-80 hari.Sebaiknya pada saat 30-40 hari stlh tebar benih dilakukan sortir, krn mulai banyak bibit yg bertubuh bongsor yg sering meng-kanibal ikan yg lain.
• Tebar lele, bisa diawali dgn tebar ukuran 2-3 cm dgn kapadatan 100-150 ekor/m2, pilih lokasi dgn suhu > 26 C. Jadikan warna air menjadi hijau daun utk suplai O2 lbh baik, dgn cara pemupukan & aplikasi probiotik. Umur 90 hari akan di dpt 140 gr ( 7ekor/Kg). dgn kepadatan itu kolam dari terpal atau beton.
Sebenarnya dgn teknologi probiotik tebar lele sudah mampu sampai 400 - 500 ekor/m3. tetapi diperlukan kepiawaian dlm manajemen pengelolaan kualitas air.
• bentuk fisik kolam tdk terlalu utama, baik itu kolam tembok ataupun tanah. yang diutamakan dlm ternak lele adalah kualitas benih, air dan pakan.Benih sebaiknya beli dari pembenih lele langsung dan mulai dari benih yg agak besar contohnya ukuran 10-12 cm dgn kepadatan 100-150 ekor/m2, air bebas pencemaran bisa berasal dari air sungai, sumur, PAM yg sudah diendapkan. kolam sebaiknya diberi pupuk kandang,urea,tsp dan didiamkan minimal 1 minggu agar terbentuk pakan alami berupa plankton, kolam harus dlm kondisi air tdk jalan krn lele rentan terhadap perubahan air yg terus menerus dan lele akan selalu meloncat kearah sumber air mengalir. kedalaman kolam sebaiknya 120 cm dgn ketinggian air 80 cm.pakan utama sebaiknya menggunakan pakan pabrik dgn kandungan protein >32% dan dpt diberi pakan tambahan berupa limbah peternakan ayam spt bangkai ayam,usus,telur yg gagal tetas dng terlebih dahulu dibakar/direbus.
• Petani lele di rangkasbitung (Banten), ukuran kolam 10×10M2 ditanami benih 10.000 ekor, diberi pakan 4 kali sehari dan 40 hari kemudian panen sekitar 1,2 ton. Kedalaman air sekitar 80 cm, kolam tidak dibeton tapi cukup tanah alami. 2 minggu setelah tabur benih, ikan dipisah-pisahkan yang ukuran besar dan yang kecil. Oya jenis lele silangan antara patin dan dumbo, saya lihat warna ikan agak putih tidak seperti lele biasa dan tidak matil, juga tidak meng-kanibal yang lainnya.
Harga benih sekitar Rp. 250/ekor, hasil diskusi dengan peternak nih, total biaya sekitar 7,5 juta (Bibit+Pakan), 40 hari tanam menghasilkan sekitar 10 Juta.
• Tips membuat pakan tambahan untuk lele, peternak lele bisa mencobanya, dgn bahan :
1. Ampas tahu
2. Katul (dedek halus) dari padi
3. Ikan Asin BS(dihaluskan)lebih bagus di rebus
dgn perbandingan 10:5:1 jd setiap 10 kg ampas tahu,+5kg katul,+ 1kg ikan asin bs aduk jd satu, berikan sesuai kebutuhan.
• Modal awal, kita coba buat 1 kolam ukuran kecil 2m x 3m, gali tanah sedalam 30an cm, tanah galian urug-kan ke sekitar pinggir calon kolam. Selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah membeli terpal plastik yang banyak dijual di toko, seharga 50 ribuan, ataupun yang lebih mahal juga bisa, tapi ini kualitasnya sudah cukup bagus. Pasang terpal plastik ke lubang kolam yang telah digali, kedalaman tanah 30 cm, tinggi permukaan tanah (dengan tanah urug sebelumnya) naik kan jadi 20-30 cm lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Jadilah kolam kita yang berbiaya murah. Isilah dengan air jernih, biarkan selama 2-3 malam (jangan langsung ditaburi benih). Beri tanam-tanaman air juga bagus, semisal teratai, ganggang air, kangkung, dsb.
• Berikutnya, tinggal beli benih ikan lele, dengan ukuran sebesar ibu jari orang dewasa, harganya sekitar 100-150 rupiah per ekor. Coba isi kolam tadi dengan 300-400 ekor benih ikan lele. Beli pakan ikan (pelet) lembut, sekitar 5000 rupiah per kg. Sebulan mungkin menghabiskan sekitar 3 kg, Sebagian di atas kolam dibuat atap pelindung, juga bagus. Sebagian terkena cahaya langsung matahari. Kalau ada sisa nasi makan malam/siang, masukkan saja ke kolam, biar nambah-nambah zat makanan. Air kondisikan alami seperti di rawa/sungai, perbanyak tanaman air. Kalau di awal-awal menabur benih, sebagian ikan mati, jangan panik, ambil saja, buang. 3-4 hari berikutnya ikan akan bertahan hidup normal. Nah, tinggal menunggu sekitar 3 bulan, ikan sudah cukp besar untuk bisa dipanen, dijual dengan harga sekitar 1000 rupiah per ekor. Bikin saja tulisan di depan rumah “JUAL IKAN LELE KONSUMSI, SEGAR, GURIH” Kalau tanah cukup luas, berarti bisa bikin 2-3 kolam lagi yang serupa. Pakai terpal plastik juga (hemat biaya pasir dan semen, serta ongkos tukang .
Ditulis dalam budidaya ikan
Langganan:
Postingan (Atom)